Pemulihan Bencana di Buleleng Butuh Belasan Miliar, Pengusaha Dilibatkan - Giok4D

Posted on

Buleleng

Biaya pemulihan bencana banjir bandang di Kecamatan Banjar dan Seririt, Buleleng, Bali, diperkirakan mencapai belasan miliar rupiah. Anggaran tersebut terutama dibutuhkan untuk rehabilitasi infrastruktur yang rusak.

Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.

Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, mengatakan anggaran untuk penanganan awal diambil dari dana tidak terduga pemerintah. Sutjidra juga memohon dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR dari pelaku usaha.

Menurut Sutjidra, para pelaku usaha telah menyatakan kesiapan untuk ikut membantu proses pemulihan. Kesanggupan itu didapat setelah dilakukan pertemuan koordinasi beberapa waktu lalu.

“Astungkara hampir semua pelaku usaha di Buleleng hadir dalam pertemuan itu. Kami menyampaikan kondisi bencana yang terjadi di Kecamatan Banjar dan Seririt, dan respons mereka cukup baik. Mereka siap ikut berpartisipasi membantu proses pemulihan,” kata Sutjidra, Jumat (13/3/2026).

Bantuan dari program CSR tersebut akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat terdampak, seperti air bersih, perlengkapan dapur, tempat tidur, perlengkapan sekolah hingga kebutuhan sembako. Hasil pendataan di posko-posko desa terdampak, kebutuhan yang paling banyak diminta warga antara lain kompor, kasur, gas, serta perlengkapan mandi.

Sementara itu, untuk rehabilitasi infrastruktur seperti perbaikan jalan, jembatan, dan fasilitas umum yang rusak akibat banjir bandang, Pemkab Buleleng memperkirakan kebutuhan anggaran jauh lebih besar, yakni mencapai belasan miliar rupiah. “Itu nanti akan kami programkan secara khusus dalam perencanaan anggaran,” jelas Sutjidra.

Namun, Sutjidra mengatakan masih fokus pada tahap awal penanganan pascabencana, yakni pembersihan dan pemulihan wilayah terdampak. Proses pembersihan masih membutuhkan banyak tenaga.

Proses pemulihan wilayah masih terus berlangsung. Enam alat berat telah dikerahkan untuk mempercepat pembersihan lumpur, puing, serta pohon tumbang yang masih menutup sejumlah titik di kawasan terdampak banjir bandang.

Sutjidra juga menyinggung soal status tanggap darurat bencana. Menurutnya, meskipun status tersebut memungkinkan penggunaan dana Belanja Tidak Terduga (BTT), penggunaannya memiliki batas waktu yang relatif singkat.

“Dana BTT itu hanya bisa digunakan dalam masa tanggap darurat yang terbatas, biasanya sekitar dua minggu. Sementara rehabilitasi infrastruktur tentu membutuhkan waktu lebih lama,” terang Sutjidra.

Salurkan Bantuan

Pemkab Buleleng saat ini lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak, terlebih menjelang perayaan Nyepi dan Idul Fitri. Pemkab Buleleng menyalurkan bantuan beras cadangan kepada warga terdampak. Setiap kepala keluarga menerima 20 kilogram beras.

“Total ada sekitar 430 kepala keluarga yang menerima bantuan, baik di Desa Banjar maupun wilayah lain seperti Kecamatan Seririt,” ujar Sutjidra.

Selain beras, bantuan lain seperti kasur, kompor gas lengkap dengan tabung dan regulator, serta perlengkapan mandi juga disalurkan melalui partisipasi ASN dan relawan.