Lombok Barat –
Dua mesin pengolahan sampah Manajemen Sampah Zero (Masaro) senilai Rp 20 miliar di Kecamatan Lingsar dan Batu Layar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), rusak. Padahal mesin tersebut baru dua bulan beroperasi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Barat, M Busyairi, mengatakan bahwa mesin tersebut rusak pada bagian blower insinerator. Sehingga asap hasil pembakaran sampah tidak keluar secara maksimal melalui cerobong yang dilengkapi sistem smokeless.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Rusaknya mesin blower tersebut membuat operasional Masaro harus disetop sementara selama tiga hari. Akibatnya, sampah dari empat kecamatan menumpuk.
“Teknisi kami belum mahir, jadi dia hubungi teknisi yang dari Jawa, makanya mandek tiga hari. Padahal dilas sedikit dan blowernya normal kembali,” ujar Busyairi, Selasa (10/3/2026).
Menurut Busyairi, salah satu penyebab kerusakan blower adalah sampah rumah tangga yang tidak dipilah sebelum dimasukkan ke mesin pengolahan.
Ia menjelaskan sistem Masaro sebenarnya dirancang untuk memisahkan jenis sampah. Sampah organik diolah menggunakan mesin pencacah untuk dijadikan kompos, sedangkan sampah anorganik dibakar menggunakan insinerator.
“Sebenarnya Masaro itu bisa dia memilah sampah. Yang organik itu dimasukkan ke mesin pencacah dan bisa jadi kompos. Kalau anorganik dibakar di mesin insinerator. Tapi di situ kan ada juga beling, terus ada bata batu juga ga dilihat, kalau masuk mesin kan ga bisa dia,” jelasnya.
Meski begitu, Busyairi memastikan mesin tersebut kini sudah diperbaiki dan pengolahan sampah kembali berjalan. Namun, performa mesin disebut belum maksimal.
“Dari kemarin sudah mulai beroperasi, tapi tidak maksimal,” katanya.
Ia menambahkan kapasitas ideal pengolahan sampah di Masaro mencapai 20 ton per hari. Namun karena sampah yang masuk tidak dipilah terlebih dahulu, petugas harus memilah ulang sehingga proses pengolahan menjadi lebih lama.
“Kami juga pernah mencoba dua truk itu sampah dari hotel, kurang dari dua jam diproses. Tapi kalau sekarang mungkin setengahnya karena pekerja kami harus memilah dulu sampahnya, padahal mereka tidak banyak,” tandasnya.






