Buleleng –
Fenomena tanah bergerak terjadi di Banjar Dinas Sorga, Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt, Buleleng, Bali. Peristiwa ini menyebabkan sejumlah rumah warga mengalami kerusakan akibat penurunan tanah.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng, Gede Suyasa, mengatakan telah melakukan pengamatan bersama sejumlah tim ahli untuk mengetahui penyebab pergerakan tanah tersebut. Tim ahli terdiri dari Ikatan Ahli Geodesi Indonesia (IAGI), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta akademisi dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha).
“Setelah kami amati, kami melibatkan tim ahli dari IAGI, juga BMKG, dan Undiksha untuk melihat secara bersama-sama apa yang sebenarnya terjadi,” kata Suyasa, ditemui di kantornya, Minggu (8/3/2026).
Berdasarkan kesimpulan sementara, kondisi wilayah tersebut masih tergolong aman untuk dihuni. Namun, warga diminta tetap waspada, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi. BPBD Buleleng juga telah memberikan peringatan kepada warga agar segera mengungsi sementara jika hujan deras turun di wilayah tersebut.
Suyasa menjelaskan, dari hasil pengamatan awal, tanah di kawasan tersebut diduga berasal dari pelapukan material tanah purba yang berasal dari letusan Gunung Jembrana. Jenis tanah tersebut dinilai memiliki sensitivitas tinggi terhadap air.
Tim juga sempat menganalisis kemungkinan adanya getaran sebagai pemicu tanah bergerak. Namun, data menunjukkan tidak ada aktivitas gempa saat peristiwa terjadi.
Data BPBD Buleleng, terdapat sekitar empat rumah warga yang terdampak akibat pergerakan tanah tersebut. Bahkan, dua rumah mengalami kerusakan cukup signifikan.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
“Ada dua rumah yang terasnya ambrol karena penurunan tanah sekitar 30 sampai 50 sentimeter. Ada juga dapur dan kamar mandi yang mengalami kerusakan,” terang Suyasa.
Tim dari IAGI dijadwalkan kembali turun ke lokasi dengan membawa alat geolistrik untuk memastikan kondisi tanah di bawah permukaan. Alat tersebut akan digunakan untuk mengetahui kandungan tanah serta potensi pergerakan tanah di kawasan tersebut.
“Besok tim IAGI akan turun lagi dengan membawa alat geolistrik untuk memastikan kondisi di bawah tanah dan potensi pergerakannya,” ujar Suyasa.
Selain melakukan kajian, BPBD Buleleng juga akan menggelar sosialisasi kepada warga terkait langkah mitigasi jika pergerakan tanah kembali terjadi. Sosialisasi rencananya akan digelar bersama Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) dengan memberikan pelatihan kesiapsiagaan kepada masyarakat sekitar.
“Kami juga akan mengumpulkan warga sekitar pukul dua atau tiga sore untuk memberikan sosialisasi agar masyarakat tahu langkah apa yang harus dilakukan jika terjadi kejadian serupa,” kata Suyasa.
Peristiwa tanah bergerak pertama kali terjadi pada 27 Februari 2026. BPBD Buleleng kemudian melakukan asesmen pada 2 Maret, dilanjutkan peninjauan bersama Undiksha pada 3 Maret, dan menghadirkan tim ahli pada 5 Maret.
Warga masih tetap tinggal di rumah masing-masing. Mereka telah diberikan pemahaman agar segera mengungsi sementara ke rumah kerabat jika hujan deras kembali terjadi.






