Denpasar –
Sebanyak 90 los dan 5 kios di Pasar Sanglah masih kosong. Untuk menarik pedagang baru, pengelola pasar memberikan program sewa gratis selama dua bulan sebagai masa uji coba, serta bantuan modal usaha bagi pedagang yang mulai berjualan.
“Kami buat kebijakan dua bulan gratis. Kalau nanti sudah berjualan 1-6 bulan, kami siapkan juga semacam permodalan bagi pedagang yang sudah berjualan tiga bulan,” jelas Kepala Unit Pasar Sanglah Wayan Kardika, Kamis (5/3/2026).
Bantuan modal usaha yang disiapkan berkisar antara Rp 5 juta hingga Rp 25 juta, tergantung jenis usaha yang dijalankan pedagang. Menurut Kardika, pedagang kebutuhan upacara adat biasanya membutuhkan modal lebih besar karena nilai barang yang dijual relatif tinggi.
“Karena kalau mereka belanja Rp 50 juta itu kan sedikit, nilai barangnya mahal. Kalau sayur-sayuran paling nggak Rp 10-15 juta sudah lebih dari cukup,” tambah Kardika.
Program tersebut menggunakan skema Kredit Usaha Rakyat (KUR). Tempat usaha yang disewa dijadikan sebagai jaminan, sedangkan pembayaran cicilan dilakukan setiap bulan menyesuaikan kemampuan pedagang.
Pemberlakuan program diperuntukkan bagi pengusaha baru yang menyewa. Sedangkan pengusaha lama telah mendapatkan haknya atas program tersebut. Meski begitu, pengelola pasar terbuka akan pengusaha yang membutuhkan pinjaman.
“Kadang tiap tiga bulan, promosi ke pedagang. Ada yang mau minjam uang atau butuh permodalan, Tim Bina Usaha itu yang turun,” ucap Kardika.
Kardika mengaku, kosongnya pasar sendiri terjadi setelah era COVID-19. Terbukti dari para pedagang memilih mengembalikan tempat sewa.
Total kunjungan rata-rata 400 orang per hari dengan jam aktif hanya di pukul 02.00-07.00 Wita. Kardika menyebut bahwa saat ini pendapatan pasar turun hingga 5-10 persen. Selain program sewa gratis dan dana bina usaha, pengelola pasar juga sudah berupaya memberikan edukasi untuk strategi penjualan daring.
“Biasanya jam segitu pengunjung yang beli dalam jumlah besar untuk dijual lagi di warung mereka. Kami juga berusaha ubah cara berpikir pedagang terutama yang di lantai dua, seperti baju-baju untuk berjualan di luar manual juga secara online. Ada beberapa pedagang yang sudah jual melalui TikTok, IG,” tutur Kardika.
Meski begitu, kendala yang mereka temui adalah pengusaha yang telah menginjak lanjut usia dengan keterbatasan teknologi, “Usia 55 ke atas. Perlu kami arahkan kembali, kami sarankan agar koordinasi dengan anak-anak mereka yang lebih intens teknologi lah,” tambahnya.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Tanggapan dari Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Sewakadarma Ida Bagus Kompyang Wiranata menilai kosongnya kios dan los juga dipengaruhi menjamurnya toko modern serta keberadaan pedagang liar di sekitar pasar.
“Pedagang liar di depan pasar, sekitar pasar. Entah mereka dikelola oleh siapa tapi jualan di depan pasar kami. Sedangkan kami tidak boleh mengelola pasar di luar pagar. Melarang pun tidak boleh karena kewenangan kami,” ungkap Wiranata.
Ia juga menilai perubahan kebiasaan masyarakat yang ingin serba praktis membuat sebagian pembeli memilih berbelanja di luar pasar daripada masuk ke dalam area pasar.
“Ini kan jadinya persaingan tidak sehat. Kami juga sudah koordinasi dengan Dishub, Satpol PP sudah. Cuma masalahnya yang jualan yang bandel, harus ditungguin. Kan personel Satpol PP nggak mungkin menunggu,” terang Wiranata.
Wiranata pun mengajak masyarakat untuk kembali berbelanja di pasar rakyat. Selain membantu perekonomian pedagang kecil, pasar juga menjadi ruang interaksi sosial bagi masyarakat.
“Kami berharap kepada masyarakat untuk belanja ke pasar rakyat karena itu juga ada interaksi kan. Kami juga bisa membantu kehidupan para pedagang yang golongan ekonomi lemah tentunya,” imbau Wiranata.






