Beban Kerja Berat, 2 Dokter Muda Puskesmas Bolo Mengundurkan Diri

Posted on

Bima

Dua orang dokter PNS di Puskesmas Bolo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, (NTB) mengundurkan diri. Dua dokter muda itu bernama Fatimah Tuzzahro dan Syahrul Qomar.

“Iya benar, mengundurkan diri belum lama ini,” ucap Kepala Puskesmas Bolo, Nurjanah, kepada, Selasa, (3/3/2026).

Nurjanah mengatakan Dokter Fatimah dan Syahrul mengundurkan diri di Puskesmas Bolo disebabkan beberapa alasan dan faktor. Seperti regulasi rujukan yang memaksa mereka bekerja di bawah tekanan saat berhadapan dengan masyarakat (keluarga pasien).

“Mereka (dokter) merasa dipaksa bekerja atas keinginan pasien, bukan berdasarkan rekomendasi medis yang menjadi kewenangan mereka,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Nurjanah, alasan lainnya berkaitan dengan pendapatan dan beban kerja yang tidak seimbang yang didapatkan dari Pemerintah. Ia menjelaskan di Kabupaten Bima, dokter yang piket 24 jam hanya di Puskesmas Bolo.

“Untuk itu, dibutuhkan regulasi yang menjadi payung hukum bagi tim medis agar bisa bekerja oncall ketika mereka harus menunaikan tugas di luar jam kerja wajibnya sebagai ASN,” katanya.

Khusus bagi dokter Fatimah, mengundurkan diri karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk tetap standby memberikan pelayanan di Puskesmas. Karena yang bersangkutan punya riwayat sakit.

“Dokter Fatimah punya riwayat sakit jantung sehingga harus menghindari tugas yang terlalu berat demi menjaga kesehatannya,” beber dia.

Setelah mundurnya dua dokter itu, saat Puskesmas Bolo hanya dilayani tiga Dokter. Namun jumlah itu tidak memungkinkan. Jika dipaksakan terus bekerja dan gantian piket 24 jam hanya bertiga dikuatirkan akan tumbang.

“Minimal harus tersedia lima dokter. Itupun masih berat bagi mereka kalau harus piket 24 jam,” terang dia.

“Kita harapkan semoga ada distribusi dokter pengganti dan jasa atau isentif yang diberikan sepadan dengan beban kerjanya,” sambung dia.

Terlepas dari itu Nurjanah menambahkan wilayah Kecamatan Bolo jumlah penduduknya sekitar 54 ribu jiwa. Dengan jumlah itu, seharusnya terdapat dua Puskesmas dengan perbandingan 30 ribu jiwa untuk satu Puskesmas.

“Selain itu, rasio dokter yakni satu banding 5.000 jumlah penduduk sehingga seharusnya tersedia 11 orang dokter di Puskesmas Bolo,” tandasnya.