Kreatif! Pemuda di Badung Sulap Limbah Kulit Telur Jadi Ogoh-Ogoh

Posted on

Badung

Sejumlah anak muda di Desa Blahkiuh, Kabupaten Badung, Bali, menyulap limbah kulit telur ayam menjadi pelapis kulit ogoh-ogoh. Inisiatif ini digagas Sekaa Truna Banjar Delod Pasar untuk menghadirkan tekstur unik sekaligus mengurangi tumpukan sampah rumah tangga di lingkungan mereka.

Ketua Panitia Pembuatan Ogoh-ogoh Banjar Delod Pasar, I Putu Agus Kumara Adi Nata, mengatakan kulit telur dikumpulkan dari warga banjar, terutama para penjual jajanan tradisional.

“Kami mengumpulkan kulit telur ayam ini dari masyarakat di banjar, khususnya para penjual jajanan tradisional. Kemarin terkumpul sekitar dua keranjang besar yang kemudian kami bersihkan bersama-sama sebelum ditempel ke badan ogoh-ogoh,” ujarnya, Minggu (1/3/2026).

Ogoh-ogoh karya pemuda Banjar Delod Pasar, Desa Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Badung, yang manfaatkan limbah kulit telur ayam.Ogoh-ogoh karya pemuda Banjar Delod Pasar, Desa Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Badung, yang manfaatkan limbah kulit telur ayam. Foto: Agus Eka/

Setelah dikumpulkan, kulit telur dibersihkan lalu ditempel secara manual ke seluruh permukaan rangka ogoh-ogoh. Proses ini membutuhkan ketelatenan karena dikerjakan langsung oleh para pemuda setempat.

“Pengerjaan bagian kulit telurnya saja itu selesai dalam kurun waktu kurang lebih dua mingguan. Ide ini sebenarnya sudah kami lakukan sejak tiga tahun lalu untuk memberikan kesan baru dan inspirasi bagi generasi pembuat ogoh-ogoh lainnya,” kata Agus Kumara.

Ia menyebut pengumpulan bahan baku tidak menemui kendala berarti. Banyaknya pelaku usaha kue dan jajanan pasar di Banjar Delod Pasar membuat ketersediaan kulit telur melimpah.

Ogoh-ogoh karya pemuda Banjar Delod Pasar, Desa Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Badung, yang manfaatkan limbah kulit telur ayam.Ogoh-ogoh karya pemuda Banjar Delod Pasar, Desa Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Badung, yang manfaatkan limbah kulit telur ayam. Foto: Agus Eka/

“Pengumpulan kulit telur tidak susah karena di banjar kami banyak pelaku usaha pembuat kue, jadi kami minta mereka jangan membuang limbahnya jauh-jauh hari. Kami melibatkan empat orang undagi utama yang merupakan warga lokal dari sekaa teruna kami sendiri,” tutur Agus.

Ogoh-ogoh tersebut diberi tajuk ‘Angkara Dewa’ yang mengangkat filosofi keserakahan seorang pemimpin dengan merujuk pada sosok Prabu Dewata Cengkar. Cerita itu diambil dari kisah Kerajaan Medang Kamulan sebagai pengingat moral bagi masyarakat.

“Tema ogoh-ogoh ini mengambil judul ‘Angkara Dewa’ yang menceritakan tentang keserakahan pemimpin, dalam hal ini kami mengambil sosok Prabu Dewata Cengkar. Kami bersama arsitek sengaja memilih cerita dari Medang Kamulan untuk diangkat tahun ini,” ucapnya.

Rencananya, ogoh-ogoh berbahan limbah tersebut akan dipamerkan dalam parade tingkat desa saat malam pengerupukan atau sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Pusat kegiatan dipusatkan di perempatan Pasar Desa Blahkiuh dan akan dirangkaikan dengan atraksi fragmen tari oleh para pemuda.

“Nanti pengarakan berlokasi di perempatan pasar Desa Blahkiuh saat malam pengerupukan. Setiap tahunnya desa kami memang menyelenggarakan parade yang menggabungkan pengarakan ogoh-ogoh dengan pertunjukan fragmen tari,” pungkasnya.