Buleleng –
Keluarga membantah I Putu Gde Pradnya Nolan Toli (22) meninggal dunia dengan cara bunuh diri. Jasad mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Udayana (Unud) itu ditemukan di bawah jurang Jembatan Shortcut 7, Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Kamis (27/2/2026).
Ayah korban, Made Merdana, menegaskan putranya tidak memiliki persoalan yang menjadi alasan untuk mengakhiri hidup. Merdana mengungkapkan keceriaan dan perasaan senang Nolan saat berkomunikasi terakhir kali.
“Anak saya itu sebelum berangkat pulang sempat telepon saya. Dia dalam kondisi senang sekali. Skripsinya sudah selesai dijilid, daftar yudisium sudah disetujui. Dia bilang mau pulang hari itu,” kata Made Merdana saat ditemui di kediamannya, Jumat (27/2/2026).
Menurutnya, komunikasi terakhir dengan sang anak berlangsung hangat dan penuh semangat. Nolan bahkan sempat membicarakan rencana enam bulan ke depan setelah yudisium.
“Dia tanya, ‘Pak nanti gimana ya, masih ada waktu longgar enam bulan, mau magang atau kerja? Saya bilang pulang saja dulu, nggak usah mikir kerja. Katanya mau bangun kandang, ini udah persiapan bikin breeding (pembibitan) ayam. Tak bilang kalo Nolan 6 bulan ini bangun breeding ini sudah usaha sendiri jadi nggak usah mikir kerja nanti. Dia jawab oke Pak,” jelasnya
Lewat telepon, Nolan saat itu mengatakan cuaca di Denpasar cerah. Merdana kemudian sempat berpesan agar sang anak tidak memaksakan diri jika hujan turun di perjalanan.
“Saya bilang kalau hujan jangan diterobos, istirahat saja di Indomaret atau Alfamart misalnya. Dia bilang oke. Dia juga bilang masih mampir ke kampus dulu sebelum berangkat agak siangan,” tutur Merdana.
Namun hingga sore hari, Nolan tak kunjung tiba di rumah. Merdana mulai khawatir lantaran anaknya sudah terbiasa bolak-balik Denpasar-Buleleng.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
“Sore di sini hujan. Saya habis jemput adiknya les, kok belum sampai. Saya telepon pertama masih nyambung tapi nggak diangkat. Saya WA, masih terkirim. Tidak lama kemudian sudah centang satu. Saya mulai merasa aneh,” katanya.
Atas saran rekannya yang anggota polisi, Made melapor melalui layanan 110 dan mendatangi kantor polisi. Tak lama berselang, ia mendapat kabar dari Polsek Sukasada bahwa ada sepeda motor yang ditemukan terparkir lama di Jembatan Shortcut 7.
“Teman di Polsek tanya, ‘Apa benar ini motornya adik?’ Saya cek, benar itu motornya,” ucap Merdana lirih.
Made Merdana menegaskan, putranya tidak memiliki masalah keluarga maupun persoalan ekonomi. Ia juga membantah kabar yang menyebut Nolan terjerat pinjaman online.
“Itu tidak benar. Anak saya tidak pernah kekurangan untuk kuliah, semua terjamin. Motor juga baru dibelikan sesuai pilihannya dia,” tegasnya.
Menurut Merdana, Nolan dikenal aktif dan menyukai fotografi. Semasa kuliah, ia pernah menjadi jurnalis kampus dan fotografer majalah kampus.
“Dia senang fotografi. Kameranya ditemukan di bawah dalam kondisi hancur. Dia memang anaknya ingin tahu, kalau ada hal unik pasti didekati. Bisa saja dia ambil foto, terpeleset atau bagaimana. Tasnya juga besar, 30 liter, ditaruh di depan,” katanya.
Kini, Merdana menerima kejadian ini sebagai musibah. Nolan sendiri telah menyelesaikan studinya dalam tujuh semester dengan predikat cumlaude dan sudah mendapatkan jadwal yudisium pada April mendatang.
“Dia sebenarnya bisa ikut yudisium sekarang, tapi memilih mundur karena teman-temannya belum banyak yang lulus. Anak saya nggak ada masalah. Dia sangat happy. Bahkan kirim foto ke ibunya,” ungkapnya.
Pihak keluarga berharap publik tidak lagi berspekulasi dan menyebarkan informasi yang belum tentu benar.
“Kami keberatan dengan informasi simpang siur di media sosial. Tolong pahami ini musibah untuk keluarga kami. Keyakinan kami, tidak ada hal-hal yang membuat dia memilih mengakhiri hidupnya. Anak saya tidak seperti itu,” pungkas Merdana.






