Denpasar –
Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan meminta agar Pemerintah Provinsi Bali bisa lebih selektif dalam menerima kunjungan wisatawan asing. Luhut meminta turis yang tak berkualitas dideportasi.
“Jadi Bali harus tertib, turis-turis yang tidak berkualitas, kita sudah koordinasikan waktu saya Menko Marvest, itu dideportasikan saja dari sini,” tegasnya.
Ia menjelaskan, turis asing yang bisa dideportasi di antaranya memiliki masalah hukum di Indonesia seperti penyalahgunaan narkoba, perkelahian hingga aktifitas investasi yang merugikan UMKM lokal.
“Kita, kalau berkurang 10 ribu orang lagi (wisatawan), itu tidak akan membuat Bali jadi masalah. Bali itu dicintai orang, biarkan yang datang turis yang berkualitas ke Bali,” sanjung Luhut.
Setelah menyoroti persoalan ketertiban, termasuk alih fungsi lahan. Luhut menyampaikan hal itu bahkan perlu ada pengawasan berbasis digitalisasi yang juga bisa membuat praktik penyimpanan semakin sulit dilakukan.
“Masalah ketertiban, alih fungsi lahan, dengan digitalisasi tidak akan bisa lagi bermain-main. Dan nanti bagaimana kira-kira, mungkin nanti penalti solusinya,” ujar Luhut, Kamis (26/2/2026).
“Jadi dari sekarang harus diingatkan, yang alih fungsi lahan tidak benar akan ada. Nanti penyesuaian di sini,” sambungnya.
Mantan Menko Marvest itu menyebut Bali sebagai ‘permata’ Indonesia karena memiliki kualitas tata kelola pariwisata yang mencuri perhatian dunia. Nantinya, selain penguatan infrastruktur, penanganan sampah berbasis energi, penertiban tata ruang hingga langkah cepat transformasi digital.
Luhut juga berharap, Bali bisa menjadi model tata kelola pariwisata berkelanjutan yang di Indonesia. “Bali adalah jewelsnya Indonesia, jadi kalau Bali tidak bagus. Maka orang luar juga malas datang ke Indonesia. Jadi, Bali ini harus tertib,” pungkasnya.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.






