Lombok Barat –
Ratusan siswa di lima dusun, Desa Sekotong Timur, Kecamatan Lembar, Lombok Barat, tidak bisa pergi ke sekolah sejak Senin (23/2/2026). Jembatan penghubung menuju jalan utama putus diterjang arus sungai sehari sebelumnya.
Jembatan yang menghubungkan Desa Sekotong Timur dan Desa Mareje itu ambruk pada Minggu (22/2). Akibatnya, sekitar 300 kepala keluarga (KK) sempat terisolasi selama dua hari karena akses utama terputus.
Kepala Desa Sekotong Timur, Marwan Hakim, mengatakan putusnya jembatan berdampak pada sedikitnya lima sekolah, mulai jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Dasar (SD).
“Sampai hari ini kan tidak ada yang bisa sekolah anak-anak kami ini, karena nggak bisa lewat. Di sini saja SDN 1 Sekotong Timur jumlah siswanya sekitar 200, tapi yang masuk nggak sampai 70. Ada juga warga kami yang sekolah ke luar tapi nggak bisa lewat,” ungkapnya kepada, Rabu (25/2/2026).
Menurut Marwan, tidak hanya aktivitas pendidikan yang terdampak. Kegiatan ekonomi warga di lima dusun tersebut juga tersendat karena akses menuju jalur utama lumpuh.
“Warga kami ini sudah nggak bisa ke pasar, harus muter dulu lewati bukit. Ada ibu-ibu yang jualan sayur pakai motor itu juga sekarang sudah nggak bisa lewat jadinya,” tuturnya.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Barat segera membangun jembatan darurat untuk membuka kembali akses warga. Pasalnya, sudah empat hari berlalu sejak jembatan tersebut putus.
“Pasti lah itu warga kami ngeluh. Makanya mereka yang gotong royong cari pohon kelapa terus dipasang. Ya itu aja dari kami dulu, supaya warga bisa nyeberang,” ujarnya.
Marwan juga mengaku khawatir jika jembatan darurat tak segera dibangun, warga yang sakit atau hendak melahirkan akan kesulitan mendapat penanganan cepat.
“Makanya sudah kami komunikasikan dengan puskesmas juga, supaya dilaporkan lebih awal kalau ada yang mau melahirkan dan disiapkan ambulans buat menjemput,” tandasnya.
Empat batang pohon kelapa kini menjadi satu-satunya tumpuan warga untuk menyeberang sungai. Batang kelapa itu dipasang berjajar sebagai jembatan darurat setelah jembatan utama ambruk.
Jembatan tersebut merupakan satu-satunya penghubung antara Desa Sekotong Timur dan Desa Mareje di Kecamatan Lembar. Putusnya akses membuat distribusi barang dan mobilitas kendaraan terhenti.
Pantauan di lokasi, Rabu (25/2/2026), warga mengantre di kedua sisi jembatan darurat. Sejumlah warga membantu lansia dan anak-anak yang kesulitan melintasi batang kelapa di atas aliran sungai. Motor dan truk terpaksa diparkir di kedua sisi karena tidak dapat melintas.
Warga setempat, Rohidi, mengatakan selain jembatan utama, dua jembatan penghubung lain juga rusak akibat arus sungai deras setelah hujan mengguyur selama tiga hari terakhir.






