Denpasar –
Penilaian Lomba Ogoh-ogoh Kasanga Festival 2026 memasuki hari ketiga di wilayah Denpasar Barat, Rabu (25/2/2026). Proses penjurian tetap berlangsung meski hujan mengguyur Denpasar selama tiga hari berturut-turut.
“Untuk kendala lebih di hujan dan macet,” tutur salah satu juri penilaian Kasanga Festival 2026 I Wayan Juliarta, ketika diwawancarai, Rabu (25/2/2026).
Pelaksanaan penilaian sendiri dimulai pada Senin (23/2/2026) di Kecamatan Denpasar Timur, Denpasar Selatan, Denpasar Barat, berakhir di Denpasar Utara pada Kamis (26/2/2026). Penilaian dimulai pagi hari sekitar pukul 09.00 Wita hingga terkadang larut malam karena kendala cuaca.
“Pastinya mundur karena kendala-kendala tadi. Tapi di lapangan, yang saya lihat, Yowana masih antusias mendukung kami,” tambah Juliarta.
Meski terhambat, penilaian tetap berjalan hingga selesai sesuai jadwal satu hari satu kecamatan, “Ya, karena ini sudah dijadwalkan, setiap kecamatan diberi satu hari. Harus selesai biarpun jam berapa,” kata Juliarta.
Penilaian ini dilakukan untuk mencari enam belas nominasi terbaik yang akan tampil pada Puncak Perayaan Lomba Ogoh-Ogoh Kasanga Festival 2026 6-8 Maret mendatang. Denpasar mengangkat tema spesifik Jala Sidhi Shuvita atau ‘Memuliakan Air untuk Kesejahteraan’.
“Kita nilai yang paling tinggi kan dibentuk, ada anatomi, juga ada ekspresi, keterkaitan dengan tema yang diambil. Karena tema air, kami jadi belajar untukmemikirkan bagaimana cara mengeksekusi tema tersebut ke dalam sebuah karya,” jelas Juliarta.
Salah satu ogoh-ogoh yang dinilai di Denpasar Barat berjudul ‘Satya Pada Nawa Ruci’ karya STT Swastika Banjar Pekambingan. Karya ini mengangkat kisah perjalanan Bima bertemu Dewa Ruci dengan tambahan sembilan kepala naga yang melambangkan Dewata Nawa Sanga.
Goesman Rahina, salah satu undagi atau perancang ogoh-ogoh Banjar Pekambingan, mengaku memilih karakter Bima karena memiliki detail anatomi tubuh sekaligus menjadi keunggulan tersendiri dari Banjar Pekambingan.
“Karena kalau ciri khas Pekambingan itu detail anatomi tubuh. Kami cari konsep realis. Jadi sisik, gigi, mata, mulut, paling sulit pasang sisiknya. Kami buat bulat-bulat, pakai kertas solek dan lem tembak. Itu agak lama nempel satu-satu, hampir satu bulan,” jelas Rahina.
Kendala lain yang dihadapi adalah terkait penyesuaian lebar dan titik posisi ogoh-ogoh yang perlu banyak pertimbangan. Selain itu, hujan turut menghambat pembuatan ogoh-ogoh karena keterbatasan gedung banjar.
“Kebetulan tidak ada wantilan, wantilan itu kayak gedung terbuka seperti banjar-banjar umum itu. Jadi kami tiga bulan pekerjaan di luar,” kata Rahina.






