Denpasar –
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat sebanyak 76 titik bencana akibat cuaca ekstrem di Pulau Dewata. Hujan lebat mengguyur sejumlah wilayah di Bali tiga hari berturut-turut dan nyaris tanpa henti sejak Minggu (22/2).
Kepala Pelaksana BPBD Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, mengungkapkan puluhan titik bencana itu terdiri dari banjir, tanah longsor, hingga pohon tumbang. Teja merinci banjir dilaporkan di 42 titik, tanah longsor (5), tanggul jebol (1), puting beliung (1), pohon tumbang (23), dan senderan jebol (4).
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Dari total 76 titik kejadian tersebut, hampir setengahnya terjadi di Denpasar dan sisanya tersebar di tujuh kabupaten lain di Bali. Teja mengatakan curah hujan yang sangat lebat juga mengakibatkan meningkatnya debit air sungai, termasuk Tukad Badung di kawasan Pasar Badung, Denpasar.
“Kenaikan muka air sempat mencapai status siaga, tetapi saat ini kondisinya berangsur menurun. Tentunya kami tetap melakukan pemantauan intensif melalui sistem peringatan dini dan personel di lapangan,” ujar Teja dalam keterangannya, Selasa (24/2/2026).
Alarm Peringatan Banjir di Tukad Badung Berbunyi
Sejumlah anak bermain di tengah banjir di Denpasar, Bali, Selasa (24/2/2026). ( Foto: ANTARA FOTO/NYOMAN HENDRA WIBOWO) |
Diketahui, alarm early warning system (EWS) di Tukad Badung berbunyi pada level 2 Siaga atau sekitar 116 sentimeter di atas permukaan air, Selasa dini hari. Warga dan pedagang diminta siaga jika sewaktu-waktu terjadi banjir akibat kenaikan debit air sungai itu.
Teja menuturkan BPBD Bali menggandeng BPBD kabupaten/kota, TNI/Polri, serta relawan untuk mengevakusi warga terdampak bencana. Hingga pukul 15.30 Wita, sebanyak 350 warga telah dievakuasi dan mengungsi sementara.
BPBD Bali masih mendata bangunan rusak dan terendam banjir akibat hujan tanpa henti tersebut. Teja menegaskan tidak terdapat laporan korban jiwa maupun korban hilang akibat cuaca ekstrem itu. Ia mengeklaim dampak dari cuaca buruk yang terjadi tiga hari terakhir masih dalam kondisi terkendali.
“Sebagaian besar kejadian bersifat lokal dan sudah ditangani. Beberapa titik masih dalam proses penanganan dan terus kami monitor secara berkala,” imbuhnya.
Di sisi lain, Teja mengatakan kesadaran warga Bali dalam menjaga kebersihan lingkungan semakin meningkat. Menurutnya, hal itu terbukti dengan sedikitnya volume sampah yang ditemukan di lokasi terdampak banjir.
“Di sebagian besar lokasi terdampak, volume sampah relatif sedikit. Ini membantu meminimalkan dampak genangan,” pungkasnya.
Sejumlah Wisatawan Dievakuasi
Sementara itu, banjir juga merendam kawasan Jalan Dewi Sri, Legian, Kuta, Kabupaten Badung, Bali, sejak Selasa dini hari. Air mulai naik sekitar pukul 04.00 Wita dan terus meninggi hingga menutup seluruh badan jalan hingga siang kemarin.
Genangan setinggi pinggang orang dewasa membuat akses dari arah utara dan selatan ditutup karena tak bisa dilintasi kendaraan. Hingga siang hari, kawasan tersebut masih lumpuh.
“Hujan deras dari dini hari sekitar jam 3 pagi sudah mulai naik airnya. Hujan nggak berhenti-berhenti,” kata warga Kuta, Made, saat ditemui di lokasi, Selasa.
Banjir akibat hujan deras tiga hari berturut-turut juga membuat sejumlah wisatawan yang sedang berlibur di Bali terkena dampaknya. Mereka tampak menerjang banjir untuk sekadar keluar dari tempat menginap.
Sejumlah wisatawan asing dievakuasi saat banjir di Jalan Bumi Ayu, Sanur, Denpasar, Bali, Selasa (24/2/2026). (Foto: Maria Christabel DK/) |
Turis asing asal Meksiko, Hugo Rodriguez, mengaku ikut tur untuk merasakan pesona Bali. Namun, situasi liburan yang harusnya menyenangkan berubah jadi kacau karena banjir.
“Kami ikut tur untuk tahu Bali, tapi semuanya tampak kacau karena hujan. Kami rencananya ke pantai untuk sekadar melihat-lihat”, kata Hugo.
Kondisi serupa terjadi di Jalan Campuhan, Jalan Dewi Sri IV, Grand Dewi Sri, dan Jalan Nakula V, Kecamatan Kuta. Pengendara terpaksa memutar balik karena jalur menuju Imam Bonjol, Sunset Road, dan Jalan Raya Kuta tak bisa diakses lewat Dewi Sri.
Tak hanya di wilayah Kuta, banjir juga merendam kawasan Jalan Bumiayu, Sanur, Denpasar. Sejumlah turis dievakuasi dari hotel maupun vila tempat mereka menginap akibat genangan air yang merendam permukiman sejak Minggu (22/2) malam.
Air mulai naik sekitar pukul 22.00 Wita dan mencapai puncaknya pada pukul 01.00 Wita, Selasa. Genangan bertahan hingga pagi hari dan merendam rumah serta penginapan.
Lima Penerbangan Terdampak
Cuaca ekstrem di Bali mengakibatkan sejumlah penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai turut terdampak. Communication and Legal Division Head PT Angkasa Pura Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Gede Eka Sandi Asmadi, mencatat sebanyak lima penerbangan terdampak cuaca buruk per pukul 15.30 Wita pada Selasa.
“PT Angkasa Pura Indonesia selaku pengelola bandara senantiasa melakukan koordinasi dengan instansi terkait, yakni BMKG dan AirNav Indonesia untuk terus memantau perkembangan cuaca di area bandara, demi memastikan keselamatan dan keamanan penumpang dalam berjalannya operasional bandara, ujar Eka Sandi dalam keterangannya, Selasa.
Eka menjelaskan lima penerbangan yang terdampak cuaca ekstrem di Bandara Ngurah Rai terdiri dari dua pesawat kedatangan dan tiga pesawat keberangkatan. Adapun, Cebu Pacific dengan nomor penerbangan 5J 281 rute Manila-Denpasar dialihkan ke Makassar pada pukul 00.12 Wita. Penerbangan tersebut baru mendarat di Bandara Ngurah Rai pada pukul 05.40 Wita.
Ada pula Indonesia Air Asia nomor penerbangan QZ 247 rute Phuket-Denpasar yang dialihkan ke Jakarta pada pukul 01.05 Wita. Pesawat tersebut telah mendarat di Bandara Ngurah Rai pada pukul 07.02 Wita.
Sementara itu, tiga keberangkatan pesawat yang terdampak terdiri dari maskapai Cebu Pacific rute Denpasar-Manila, Transnusa rute Denpasar-Lombok, dan Wings Air rute Denpasar-Lombok. Ketiga penerbangan tersebut terpaksa mengalami penjadwalan ulang penerbangan (rescheduled).
Penyeberangan Sanur-Nusa Penida Terdampak
Cuaca ekstrem juga mengakibatkan aktivitas penyeberangan fast boat dari Nusa Penida, Klungkung, menuju Sanur, Denpasar, terdampak. Sistem buka tutup untuk penyeberangan Sanur-Nusa Penida diterapkan pada Selasa.
Kepala Kantor Unit Penyelenggaraan Pelabuhan Kelas II Nusa Penida, Ni Luh Putu Eka Suyasmin, mengatakan penutupan sempat dilakukan pada pukul 08.30 Wita. Menurutnya, penyeberangan kembali dibuka saat cuaca mulai membaik pada siang hari.
Selang beberapa jam, penyeberangan kembali ditutup sejak pukul 15.00 Wita. “Kami terapkan sistem buka tutup, tergantung kondisi cuaca di Pelabuhan Nusa Penida dan pelabuhan tujuan,” kata Eka Suyasmin, Selasa.
Penutupan dilakukan di sepanjang jalur yang dilalui fast boat diterjang hujan angin. Selain itu, terdapat kabut tebal sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan penyeberangan.
Sementara itu, penyeberangan fast boat dari Pelabuhan Rakyat Padangbai, Kabupaten Karangasem, menuju Gili Trawangan, NTB, juga sempat ditutup pada Selasa pagi akibat cuaca ekstrem. Namun, layanan kini telah kembali normal seiring membaiknya kondisi cuaca.
Respons Koster soal Banjir di Bali
Gubernur Bali Wayan Koster merespons banjir yang melanda beberapa wilayah di Bali pada Selasa (24/2). Menurut Koster, banjir terjadi karena curah hujan deras sejak tiga hari yang lalu.
“Karena dari Sabtu yang lalu hujannya tak henti. Dari pagi sampai malam, dari malam sampai pagi,” kata Koster saat ditemui di Kantor Gubernur Bali, Selasa.
Koster mengatakan BPBD telah mengatasi seluruh persoalan banjir di beberapa titik. Ia mengingatkan warga agar tetap berhati-hati beraktivitas di tengah cuaca ekstrem.
“Kalau nggak perlu sekali hindari bepergian yang jauh, apalagi ada jalur atau daerah rawan banjir,” ujar Koster.







