Denpasar –
Ketegangan antara Jepang dan China kembali meningkat setelah Tokyo melayangkan protes keras kepada Beijing pada Minggu (15/2). Protes itu dipicu pernyataan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, yang menuduh adanya kekuatan sayap kanan ekstrem di Jepang yang berupaya menghidupkan kembali militerisme.
Pernyataan Wang disampaikan dalam Konferensi Keamanan Munich di Jerman. Dalam forum tersebut, Wang menyinggung hubungan Beijing dan Tokyo yang berada di bawah tekanan berat sejak Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, melontarkan komentar soal Taiwan pada November lalu.
“Rakyat Jepang tidak boleh lagi membiarkan diri mereka dimanipulasi atau ditipu oleh kekuatan sayap kanan ekstrem tersebut, atau oleh pihak yang berupaya menghidupkan kembali militerisme,” kata Wang, dilansir dari.
“Semua negara pencinta damai harus mengirimkan peringatan yang jelas kepada Jepang: Jika Jepang memilih untuk kembali ke jalan ini, mereka hanya akan bergerak menuju kehancuran diri sendiri,” sebut Wang dalam pernyataannya.
Reaksi Jepang
Reaksi keras kemudian disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Jepang. Seperti dilansir AFP, Senin (16/2/2026), pemerintah Jepang menolak tuduhan Wang sebagai tuduhan yang tidak benar secara faktual dan tidak berdasar.
“Upaya Jepang untuk memperkuat kemampuan pertahanannya merupakan respons terhadap lingkungan keamanan yang semakin ketat dan tidak ditujukan terhadap negara ketiga tertentu,” tegas Kementerian Luar Negeri Jepang dalam pernyataan melalui media sosial X pada Minggu (15/2) waktu setempat.
Kementerian Luar Negeri Jepang juga menyebut adanya negara-negara di komunitas internasional yang telah dengan cepat meningkatkan kemampuan militer mereka secara tidak transparan.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
“Jepang menentang langkah-langkah tersebut dan menjauhkan diri dari mereka,” tegas Jepang.
Sikap Jepang turut diperjelas oleh Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, yang berbicara dalam konferensi yang sama di Munich, meski dalam sesi berbeda. Tokyo juga disebut telah menyampaikan protes keras kepada Beijing melalui jalur diplomatik.
Ketegangan antara Jepang dan China berawal ketika Perdana Menteri Sanae Takaichi, hanya beberapa minggu setelah menjabat, menyatakan bahwa Jepang akan melakukan intervensi militer jika terjadi serangan terhadap Taiwan.
Pernyataan tersebut memicu kemarahan Beijing, yang mengeklaim Taipei sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya dan mengancam akan menggunakan kekerasan untuk menguasainya.






