Denpasar –
Partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah di Bali masih rendah. Hal ini diungkapkan oleh Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Bali dan Nusa Tenggara (Nusra), Ni Nyoman Santi.
“Sampai hari ini baru 29% yang memilah, kalau Badung mungkin baru 26%. Jadi masih ada 75% yang harus kami dorong untuk lakukan pemilahan,” ujar Santi dalam sesi dialog dalam acara Sungai Watch New Facility Launch, Rabu (11/2/2026).
Pusdal LH Bali Nusra kini tengah mengkaji permasalahan yang dihadapi tiap kartu keluarga (KK) dalam pengelolaan sampah melalui program Satu Bina Satu. “Januari, Februari, Maret, kami fokus di sana. Mudah-mudahan di Maret ada peningkatan jumlah KK yang memilah,” harap Santi.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
Selain warga, program tersebut juga mencakup pelaku usaha, mulai dari hotel, kafe, dan restoran. Pusdal LH Bali Nusra mendatangi satu per satu pelaku usaha untuk memastikan mereka menyelesaikan sampah organik di tempat dan bekerja sama dengan transporter untuk pengangkutan residu.
Santi sendiri menyebutkan bahwa total sampah di Bali hingga 3800 ton per hari, dimana Denpasar capai 1000 ton dan Badung 700 ton. Sesuai dengan temuan, dominasi sampah Bali sendiri berupa sampah organik yang tembus 60-70%. Sampah berbentuk sisa makanan dan sisa upacara adat.
Santi sangat berharap adanya partisipasi masyarakat tanpa terkecuali dunia usaha untuk melakukan pemilahan sampah, mengurangi kemunculan sampah, dan memastikan hanya residu yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).
“Pemerintah sangat gembira dengan upaya lapisan masyarakat baik dari swasta hingga komunitas yang aktif bantu pemerintah dan menuntaskan itu, dengan memilah, dan setelah itu dibuang kemana, mereka juga sudah punya produk yang dihasilkan dari sisa-sisa, menyelesaikan dari hulu sampai hilir,” jelas Santi.
Infrastruktur Lemah
Santi juga mengungkap soal fasilitas infrastruktur di Bali yang tidak maksimal dalam pengelolaan sampah. Berbagai infrastruktur yang dimaksud adalah tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R), tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) hingga berbagai bank sampah induk yang tidak berjalan efektif.
“Kami punya data, kesimpulannya mereka tidak optimal kerjanya, kapasitas 20 ton kerjanya 5 ton. Kenapa? Karena pemilahan di hulu tidak berjalan baik,” terang Santi.
Pemilahan sampah organik dan anorganik yang belum dilakukan justru menghambat kerja Material Recovery Facility (MRF). Terhambatnya kinerja kemudian memunculkan masalah lain melalui kemunculan bau tidak sedap dari sampah yang tidak terpisah.
Selain karena pemilihan, Pusdal LH Bali-Nusra juga fasilitas infrastruktur pengolajan sampah di Bali juga masih kurang. Walhasil, hal tersebut juga memengaruhi rendahnya pengelolaan sampah.
“Pemerintah akan mereaktivasi juga optimalisasi sesuai kapasitas penuh. Kalau kurang, kami akan bangun. Bangun pun tidak mudah karena berkaitan dengan lahan, Pemerintah Provinsi Bali kalau tidak salah ada lima lahan, silahkan digunakan,” jelas Santi.
Sungai Watch Rilis Mesin Pilah Sampah
Sementara itu, Sungai Watch merilis dua mesin konveyor untuk pilah sampah, mesin cuci, dan mesin pengepres. Mesin tersebut mempunyai kapasitas pengolahan sampah mencapai 2.000 kg/hari, baik dari area sungai dan pantai.
Pengolahan sampah dengan mesin tersebut dibagi dalam 4 tahap, yaitu inbound area (penerimaan), sorting area (pemilahan), baling area (pemadatan), dan washing area (pencucian).
Sungai Watch mengaku awalnya mereka menyortir secara manual di atas meja sebelum menemukan mesin sortir. “Pencucian sendiri dilakukan lima kali, menggunakan eco enzyme, sehingga terjamin ramah lingkungan. Kami juga ada water treatment plant, jadi nanti airnya tidak akan jadi limbah, tapi disaring, diolah lagi,” ujar staf sembari menjelaskan sistem kerja fasilitas mesin sortir sampah.
Sungai Watch mempunyai 380 titik penyaring sampah di aliran sungai tersebar di Bali dan Jawa Timur. “Denpasar sendiri paling banyak Denpasar Selatan, satu hari bisa 200, 300 kilo hanya bersumber dari sungai saja,” kata Field Manager Sungai Watch Bali, I Made Dwi Bagiasa.
“Di Bali kami kumpulkan rata-rata 1.500 kg per titik jaring per tahun, di Banyuwangi dua kali lipat, tetapi di Sidoarjo hampir 10 kali lipat. Jadi kalo penduduknya jauh lebih banyak, di situ sumbernya,” jelas Co Founder Sungai Watch, Gary Bencheghib.
Gary mengaku dominasi sampah yang ditemukan berupa sampah kresek, yang kemudian diolah kembali oleh Sungai Watch menjadi produk lain mulai dari sandal, barbel, meja, kursi, nampan, kotak tisue dan banyak lagi. Produksi tersebut dilakukan perusahaan sampingan yang bernama Sungai Design. Meski belum memiliki gerai fisik, akses terbuka bisa dilakukan melalui website resmi sungaidesign.com.
“Kami proses pakai mesin CNC dan kami poles manual. Kami sudah mulai ekspor ke luar negeri dan profitnya dikembalikan ke yayasan. Kami sudah menang beberapa design award di Paris, New York, Australia, Jepang,” tutur Gary.






