Sikka –
Banjir menerjang ruas jalan penghubung Desa Bhera menuju Desa Ndai Mbere, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, Selasa (10/2/2026). Banjir deras tersebut membuat aktivitas siswa dan guru menuju sekolah terganggu karena harus menyeberangi aliran air yang meluap.
Warga Desa Ndai Mbere, Hendrik Wae, mengatakan guru dan siswa kesulitan menyeberang ke sekolah setiap kali banjir terjadi. Kondisi ini sudah berulang dan sangat menghambat proses belajar mengajar.
“Bukan hanya siswa saja, melainkan kami guru-guru juga,” kata Hendrik Wae saat dikonfirmasi, Selasa siang.
Hendrik menjelaskan, akses satu-satunya menuju sekolah harus melewati kali tersebut dengan jarak tempuh sekitar 25 kilometer (km) atau sekitar 1 jam 30 menit menggunakan kendaraan roda dua. Tidak ada jalur alternatif lain selain melewati kali itu.
Menurut Hendrik, setiap hujan turun, kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah kerap tidak berjalan normal. Siswa bahkan harus dipulangkan lebih awal karena banjir biasanya mulai terjadi sejak pukul 10.00 Wita.
“Setiap kali hujan aktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah tidak berjalan dengan baik. Alasannya, siswa dipulangkan lebih awal karena mulai jam 10.00 Wita hujan turun mengakibatkan banjir besar,” imbuhnya.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Hal senada disampaikan warga lainnya, Siskus. Ia mengatakan jalan menuju sekolah tersebut melintasi Kali Dagegebo yang kerap meluap saat hujan deras. Jalan tersebut telah digunakan sejak lama oleh warga.
Jalan menuju sekolah tersebut melewati Kali Dagegebo sejak tahun 1996 dan hingga kini belum mengalami perbaikan berarti.
“Sejak awal tahun 1996-2026 pembukaan jalan sampai dengan sekarang,” ujarnya.
Siskus berharap pemerintah daerah Kabupaten Sikka maupun Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dapat memberikan perhatian terhadap kondisi jalan dan jembatan di wilayah tersebut.
“Tolong direspons sehingga jalan serta jembatan harus perlu direalisasikan. Itu menjadi harapan kami,” tandasnya.






