Mataram –
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menganggarkan sekitar Rp 128 miliar untuk menjalankan program unggulan Desa Berdaya pada tahun 2026. Anggaran tersebut diperuntukkan bagi dua skema, yakni Desa Berdaya Tematik dan Desa Berdaya Transformatif.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB Baiq Nelly Yuniarti mengatakan untuk program desa berdaya transformatif itu difokuskan menyentuh masyarakat miskin ekstrem sebanyak 7.250 kepala keluarga (KK) yang tersebar di 106 desa.
“Ini sedang persiapan. Kami sedang pendataan, karena dari 7.250 KK yang akan kami sentuh itu, belum tentu semuanya layak untuk mendapatkan penambahan income,” kata Nelly, Selasa (10/2/2026).
Nelly menyebut dari 7.250 KK yang dilakukan verifikasi ini akan diberikan pendamping untuk bisa mandiri atau didampingi untuk bisa berdaya. Niatnya, program ini tidak akan menyentuh kelompok miskin ekstrem lanjut usia (lansia).
“Karena tidak mungkin lansia diberikan pendampingan untuk penambahan income ya. Inilah yang sedang divalidasi oleh teman-teman tenaga pendamping di dinas desa,” ujarnya.
Khusus program Desa Berdaya Tematik, Nelly berujar, akan diberikan bantuan sebesar Rp 300 juta per desa. Bantuan keuangan ini akan diberikan sesuai dengan kebutuhan desa tersebut.
“Kami akan panggil dulu kadesnya, nanti baru kemudian kami sosialisasikan. Kemungkinan kami akan eksekusi dulu di awal tahun ini, untuk yang tematik,” katanya.
Ia menegaskan, kepala desa harus melakukan kajian mendalam sebelum mengajukan proposal agar program yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kebutuhan desa. Apakah untuk fokus pariwisata, lingkungan, atau ketahanan pangan.
Sementara itu, program Desa Berdaya Transformatif lebih menekankan pada transfer aset produktif kepada warga miskin ekstrem. Bantuan diberikan sesuai mata pencaharian warga, seperti ayam petelur bagi petani atau alat tangkap bagi nelayan, disertai pendampingan usaha.
“Maka ayam kandang akan diberikan. Kalau dia butuh jala karena dia nelayan, mungkin jala, seperti itu,” ujarnya.
Secara keseluruhan, anggaran Rp 128 miliar tersebut akan dialokasikan untuk sekitar 227 desa di NTB dan dilaksanakan secara bertahap. Pemprov NTB juga mendorong keterlibatan organisasi perangkat daerah (OPD) serta pemerintah kabupaten dan kota agar program berjalan terpadu.
Sebagai contoh, Desa Batu Mekar di Lombok Barat akan menerima bantuan Rp 300 juta untuk pembangunan akses jalan agrobisnis guna mendukung distribusi hasil pertanian, khususnya durian, yang selama ini menyebabkan kemacetan akibat keterbatasan infrastruktur.
“Di sana terdapat hasil buah durian melimpah. Tetapi kondisi saat ini ternyata pasar duriannya pinggir jalan, bikin macet, jalannya kecil. Hal-hal seperti itu yang harus kami tata. Seperti itu harapan program ini,” tandas Nelly.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) melakukan verifikasi data penerima manfaat pada pelaksanaan program Desa Berdaya yang menyasar ribuan kKK miskin ekstrem melalui pendekatan transformatif.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB Baiq Nelly Yuniarti mengatakan verifikasi untuk memastikan bantuan benar-benar tepat sasaran. Pada tahap awal, program ini menargetkan 106 desa miskin ekstrem, dengan implementasi tahap pertama di 40 desa, menjangkau lebih dari 7.250 KK di NTB.
“Nanti akan menyasar sekitar 19.000 jiwa yang akan didampingi secara intensif selama dua tahun. Ini yang masuk data miskin ekstrim masih pendataan,” kata Nelly dikonfirmasi, Senin (9/2/2026).
Nelly menjelaskan untuk program Desa Berdaya tematik prinsipnya sudah mulai berjalan. Namun, pemerintah masih menunggu umpan balik dari masing-masing kepala desa terkait rencana penggunaan anggaran.





