Gubernur NTT Menangis Kala Singgung Siswa SD Bunuh Diri di Ngada

Posted on

Flores Timur

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menangis kala menyinggung YBR, siswa sekolah dasar (SD) di Ngada yang bunuh diri gegara permintaan membelikan buku dan pensil tak bisa dipenuhi ibu kandungnya. Laka Lena menyinggung kematian siswa SD itu saat peluncuran NTT Mart di Flores Timur, Kamis (5/2/2026) malam.

“Kami orang NTT tidak miskin kepeduliaan. Kita sebagai manusia, kemanusiaan kita menjaga sekeliling kita. Saya ambil tanggung jawab ini, cuma saya minta ini yang terakhir. Konsekuensi apa pun saya siap. Jangan orang mati sia-sia model begini. Para bupati yang pegang kuasa hari ini, kita mati cuma 2×1 meter,” ujar Laka Lena.

Laka Lena mengungkapkan semua pemerintah, baik Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngada, dan berbagai pranata sosial gagal karena ada anak yang harus pergi gara-gara buku dan bolpoin. “Karena dua alat vital itu dia harus pergi. Buat saya dimaki juga tidak masalah. Jangan lagi terulang lagi di Flores Timur,” pintanya.

Seperti diketahui, siswa SD Kecamatan Jerebuu, Ngada, NTT, inisial YBR nekat gantung diri. YBR bunuh diri diduga karena kecewa tidak dibelikan buku tulis dan pulpen untuk keperluan sekolah.

Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, menjelaskan pada malam sebelum kejadian, YBR minta uang kepada ibunya untuk beli buku tulis dan pulpen. Namun, permintaan itu tak bisa dipenuhi ibunya karena kondisi ekonominya yang susah.

“Menurut pengakuan ibunya permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal,” ungkap Dion Roa, Selasa (3/2/2026).

Dion menjelaskan YBR sehari-hari tinggal bersama neneknya. Rumah nenek dan ibunya berada di desa tetangga. Malam sebelum kejadian, YBR menginap di rumah ibunya untuk meminta uang tersebut.

Ancam Penjarakan Pemanipulasi Data Orang Miskin

Laka Lena juga meminta agar tidak mempermainkan data kemiskinan. Politikus Partai Golongan Karya (Golkar) itu mengancam akan memenjarakan orang yang memanipulasi data kemiskinan atau mempersulit orang miskin menerima bantuan.

“Data kemiskinan jangan main-main lagi, jangan persulit orang miskin untuk terima dia punya bantuan. Siapa pun yang bersalah dihukum seberat-beratnya, lebih hebat daripada menghukum koruptor,” terang Laka Lena.

Laka Lena menilai tindakan mempermainkan data kemiskinan merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime). Ia menegaskan pilihan politik berbeda dengan urusan kemiskinan.

“Setelah ini, siapa main-main data kemiskinan namun karena urusan politik akan diproses. Sudah cukup kita berpura-pura di republik ini. Undang-undang ini mesti kita ubah. Harus ada pertobatan bersamaan,” tegas Laka Lena.