Denpasar –
Gerhana Matahari akan kembali menyapa bumi pada 17 Februari 2026. Fenomena astronomi ini tergolong cukup langka karena hanya terjadi dalam jangka waktu yang tidak bisa diprediksi, yakni puluhan bahkan ratusan tahun sekali. Meski begitu, peristiwa tersebut selalu menjadi pusat perhatian dunia.
Dikutip dari laman British Broadcasting Corporation (BBC), peristiwa gerhana Matahari terjadi ketika Bulan berada pada titik apogee, yakni posisinya sangat jauh dari Bumi. Sehingga Bulan berada tepat di antara Matahari dan Bumi. Pada kondisi tersebut, piringan Bulan akan terlihat lebih kecil dibandingkan diameter Matahari. Dikarenakan cahaya Bulan tidak mampu menutupi Matahari sepenuhnya, lingkaran cahaya dari pinggiran Matahari akan muncul dan menciptakan efek visual yang sangat indah.
Fenomena gerhana Matahari cincin ini dipastikan tidak melintasi wilayah Indonesia. Berdasarkan informasi dari laman Science NASA, Antarktika menjadi satu-satunya jalur utama gerhana Matahari. Adapun fase gerhana Matahari sebagian juga terlihat di beberapa kawasan lain, meliputi Afrika selatan, Amerika Selatan, serta beberapa wilayah perairan luas di Samudra Atlantik, Pasifik, dan Hindia.
Waktu Gerhana
Berdasarkan data dari situs astronomi Time and Date, keseluruhan proses gerhana ini akan berlangsung dengan durasi yang cukup lama, yakni selama 271 menit. Rangkaian gerhana Matahari cincin 2026 akan diawali dengan fase gerhana sebagian yang mulai terjadi pada pukul 09.56 UTC atau 16.56 WIB di wilayah pertama yang dilintasi bayangan gerhana.
Selanjutnya, fase gerhana cincin mulai berlangsung sekitar pukul 11.42 UTC atau 18.42 WIB. Pada fase ini, Bayangan antumbra Bulan pertama kali menyentuh Bumi di Antarktika.
Puncak gerhana cincin diperkirakan terjadi pada pukul 12.12 UTC atau 19.12 WIB, lalu berakhir pada pukul 12.41 UTC atau 19.41 WIB. Pada fase tersebut, Bulan akan menutupi sekitar 96 persen piringan Matahari. Kemudian, seluruh rangkaian gerhana Matahari sebagian berakhir sekitar pukul 14.27 UTC atau 21.27 WIB.
Fakta-fakta Menarik
Di balik pemandangan alamnya yang menakjubkan, gerhana Matahari cincin menyimpan sejumlah fakta menarik yang jarang diketahui. Berikut fakta-faktanya.
- Sejarah Nama Gerhana Matahari Cincin
Fenomena gerhana Matahari, dalam pengetahuan astronomi, disebut sebagai Annular. Kata “annular” berasal dari bahasa Latin, yaitu “annulus”, yang berarti cincin. Gerhana Matahari dinamai berdasarkan fase tergelap atau titik maksimumnya. Meskipun begitu, fase puncaknya sering kali berlangsung sangat singkat, bahkan kurang dari satu detik. Suatu gerhana disebut Gerhana Matahari Annular atau Cincin apabila fenomena cincin api terlihat dari setidaknya satu lokasi di Bumi.Di sebagian besar wilayah pada waktu-waktu tertentu, gerhana Matahari cincin justru tampak seperti gerhana Matahari sebagian. Kondisi serupa juga terjadi pada gerhana Matahari total serta gerhana Matahari hibrida yang tergolong langka, yakni titik maksimum annular dapat terlihat di beberapa lokasi, sementara di wilayah lain puncak gerhana justru tampak sebagai gerhana Matahari total.
- Bulan Berada Jauh Dari Bumi
Para periode bulan lunar, jarak antara Bumi dan Bulan akan terus berubah karena orbit Bulan yang mengelilingi Bumi berbentuk elips, bukan lingkaran sempurna. Kondisi ini menyebabkan ukuran Bulan yang terlihat dari Bumi tidak selalu sama.Sedangkan pada saat gerhana Matahari cincin, fenomena cincin cahaya yang ada di tepi Matahari terjadi karena Bulan berada di titik terjauhnya dari Bumi yang disebut apogee. Bulan dalam posisi ini terlihat lebih kecil dibandingkan Matahari sehingga bagian tepi luar Matahari masih tampak bercahaya saat puncak gerhana berlangsung.
Fenomena ini juga dapat menyebabkan perubahan suhu di Bumi yang menurun secara tiba-tiba akibat energi surya di Bumi yang berkurang drastis. Selain itu, saat Bulan menutupi lebih dari 75% cahaya Matahari, keadaan di Bumi akan perlahan berubah menjadi warna keabu-abuan. Meskipun tidak sepenuhnya menjadi gelap, fenomena ini akan menciptakan efek “Cincin Api” dengan pemandangan langit yang tampak seperti sore hari yang sangat redup.
- Jadi Pembuka Gerhana Matahari Cincin Selama 3 Tahun Berturut-turut
Fenomena ini menandai dimulainya rangkaian gerhana Matahari cincin atau Ring of Fire yang akan berlangsung selama tiga tahun berturut-turut. Gerhana pada 17 Februari 2026 menjadi gerhana pertama di 2026 dan pembuka dari rangkaian langka tersebut meski hanya dapat disaksikan dari Antarktika.Rangkaian ini akan berlanjut pada 6 Februari 2027 dengan lintasan gerhana yang kembali melintasi Samudra Atlantik hingga Afrika. Puncaknya terjadi pada 26 Januari 2028 yang diprediksi menjadi yang paling menarik untuk wisata astronomi karena dapat disaksikan dari wilayah populer, seperti Kepulauan Galápagos dan Spanyol.






