Pengamat Soroti Implementasi Pendidikan Gratis Buntut Siswa di Ngada Bunuh Diri

Posted on

Ngada

Meninggalnya siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) berinisial YBS (10) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyisakan duka mendalam. Pengamat pendidikan NTT, Dr Vincentius Mauk, menilai peristiwa ini harus menjadi momentum refleksi bersama untuk membenahi sistem pendidikan.

Menurut Vincentius, tragedi ini bukan sekadar peristiwa kemanusiaan, melainkan juga alarm keras bagi sistem pendidikan nasional. Terutama soal makna pendidikan gratis yang sesungguhnya.

“Kasus YRB sangat menyentuh hati kita semua. Ini bukan hanya tentang satu anak, tapi tentang sistem yang perlu kita benahi bersama,” kata Vincentius kepada, Rabu (4/2/2026) melalui sambungan telepon.

Menurut dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Timor (Unimor), Kefamenanu, negara sejatinya telah memiliki fondasi kebijakan yang kuat, tetapi masih lemah dalam pelaksanaan di lapangan.

“Pendidikan gratis tidak boleh dimaknai sebatas pembebasan biaya SPP,” kata dia.

Ia berpendapat pendidikan gratis harus benar-benar membebaskan anak dari seluruh beban ekonomi yang menghambat proses belajar. “Anak-anak seharusnya tidak dipusingkan dengan persoalan buku, alat tulis, atau seragam. Semua kebutuhan dasar belajar harus dijamin negara,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa konstitusi telah menjamin pendidikan dasar gratis, yang juga diperkuat dengan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan sejumlah program bantuan lainnya. Namun, persoalan klasik masih muncul pada aspek pemerataan pelaksanaan kebijakan tersebut.

“Namun, persoalan klasik justru terletak pada implementasi yang belum merata, terutama di daerah terpencil,” urai dia.

Pendataan Bantuan Sosial Masih Bocor

Vincentius juga menyoroti persoalan pendataan bantuan sosial (bansos) dalam kasus yang terjadi di Ngada. Ia menilai masih adanya keluarga miskin ekstrem yang luput dari bantuan menunjukkan perlunya pembenahan sistem pendataan dan distribusi.

“Programnya ada anggarannya ada. Namun yang perlu diperbaiki adalah mekanisme pendataan agar tidak ada keluarga miskin yang terlewat,” katanya.

Ia mendorong pemanfaatan teknologi serta kolaborasi lintas sektor antara sekolah, pemerintah desa atau kelurahan, dan dinas sosial agar bantuan dapat tersalurkan secara tepat sasaran.

Menurut dia, guru dan kepala sekolah harus menjadi garda terdepan karena merekalah yang paling memahami kondisi riil peserta didik.

“Kalau komunikasi sekolah dan pemerintah daerah berjalan baik, bantuan bisa sampai lebih cepat,” katanya.

Solusi

Vincentius mendorong sekolah membangun jejaring kepedulian internal, seperti sistem teman sebaya atau kakak asuh antarsiswa, yang dilakukan secara bermartabat tanpa melukai harga diri anak.

Ia juga menilai komunitas orang tua murid dapat diberdayakan melalui program bank buku, kotak amal kelas, atau sistem pinjam-pakai perlengkapan sekolah yang dikelola secara transparan.

“Kotak amal kelas, atau sistem pinjam-pakai perlengkapan sekolah yang dikelola secara transparan,” tambah dia.

Selain aspek ekonomi, Vincentius menekankan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental anak, terutama bagi siswa dari keluarga rentan.

“Anak perlu tahu bahwa mereka tidak sendirian. Berbicara tentang kesulitan hidup itu wajar dan sehat,” tegas dia.

Ia mengusulkan sejumlah langkah, seperti pembentukan tim pemantau kesejahteraan siswa di setiap sekolah, percepatan pemutakhiran data keluarga miskin dengan melibatkan RT/RW dan sekolah, serta penyediaan lemari perlengkapan sekolah yang dapat diakses siswa tanpa rasa malu.

Selain itu, ia mendorong dinas pendidikan membuka hotline atau aplikasi laporan cepat untuk kasus darurat serta melatih guru dalam deteksi dini masalah sosial dan kesehatan mental anak.

Sering Makan Ubi-Jual Pisang Pulang Sekolah

YBR selama hidupnya sering makan ubi dan pisang bersama nenek yang merawat dia sejak usia satu tahun tujuh bulan. Ia tinggal bersama nenek di pondok bambu di kebun dan ikut mencari nafkah lantaran kondisi ekonomi ibunya yang susah. Sang ibu menanggung sendirian biaya hidup lima anaknya.

“Untuk makan selalu nenek siapkan makan walaupun itu hanya umbi-umbian,” ungkap Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ngada, Gerardus Reo, Rabu (4/2/2026).

Selain ubi, sang nenek yang kini berusia 85 tahun itu juga kerap menghidangkan pisang untuk makanan YRB. Selain itu, YRB ikut mencari nafkah untuk kebutuhan hidup bersama neneknya. Sepulang sekolah, YBR biasanya keliling kampung menjual ubi, pisang, dan sayur yang dihasilkan dari kebun neneknya.

“Pulang sekolah anak itu sering jalan untuk jual ubi, sayur, pisang. Mungkin itu yang bisa membantu menghidupi mereka dengan neneknya selama di kebun. Jual di masyarakat sekitar situ,” ungkap Gerardus.

Ia mengatakan nenek YBR yang sudah berusia renta sehari-harinya bekerja di kebunnya. Selain ubi dan pisang, di kebun itu terdapat sejumlah pohon cengkeh.

“Nenek kerja di kebun, bayangkan usia 80-an kekuatan dia untuk kerja seperti apa,” ujar Gerardus.

Meski demikian, YBR tak pernah mengeluh. Ia hanya mengeluhkan soal buku tulis dan pulpen. Dengan segala keterbatasan, sang nenek biasanya penuhi permintaan cucunya tersebut.

“Anak itu tidak pernah ada keluhan yang berarti, keluhannya hanya buku tulis, bolpoin, dan neneknya bilang ya saya biasa kasi untuk beli buku, beli bolpoin,” ungkap Gerardus.