Siswa SD Bunuh Diri di Ngada Ditinggal Ayah Sejak dalam Kandungan

Posted on

Ngada

Disclaimer: Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

Siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) yang tewas gantung diri di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah selama hidupnya. Korban berusia 10 tahun berinisial YRB itu ditinggalkan ayahnya saat dia masih dalam kandungan ibunya.

Ayah dan ibunya kala itu berpisah. Ayahnya dikabarkan pergi ke Kalimantan. YRB kemudian harus tinggal bersama neneknya di sebuah pondok bambu di kebun sejak usia satu tahun tujuh bulan lantaran kondisi ekonomi keluarganya yang susah. Sang ibu yang bekerja sebagai petani dan serabutan harus membiayai hidup lima orang anaknya.

“Bapanya itu ada di Kalimantan sudah hampir 11 tahun,” ujar Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ngada, Gerardus Reo, Rabu (4/2/2026).

Gerardus menemui keluarga YRB untuk mengurus administrasi kependudukan, Selasa (3/2/2026). Ia juga berbincang dengan nenek dan ibu korban serta masyarakat setempat terkait kehidupan YRB dan keluarganya.

Melihat kondisi keluarga YRB, yang diperkuat dengan cerita warga di sana, Gerardus menilai selama hidupnya korban sedikit mengalami beban psikologi. Ditinggal ayah saat masih dalam kandungan, lalu tinggal terpisah dengan ibunya saat masih balita. YRB kemudian tinggal di pondok bambu di kebun dan berjuang hidup bersama neneknya yang kini berusia sekitar 85 tahun.

“Saya berkesimpulan bahwa anak ini mengalami sedikit beban psikologi menurut saya ya, karena orang tuanya itu tinggal pisah sejak dia masih dalam kandungan. Karena bapanya itu ada di Kalimantan sudah hampir 11 tahun, lalu mamanya juga tinggal pisah dengan dia,” jelas Gerardus.

Informasi lain yang dihimpun, YRB adalah anak dari suami ketiga ibunya. Mereka tiga bersaudara. YRB anak bungsu. Ibunya juga memiliki anak dari suami sebelumnya.

Diberitakan sebelumnya, YRB tewas gantung diri di pohon cengkih lantaran orang tuanya tak mampu membelikan buku tulis dan pulpen. YBR tinggal di pondok bersama neneknya, beda desa dengan ibunya. Pondok itu berada di kebun neneknya.

Kondisi pondok tempat tinggal mereka sangat memprihatinkan. Pondok terbuat dari bahan bambu termasuk atapnya. Pondok berbentuk panggung itu hanya berukuran sekitar 2×3 meter.

Di dalam ruang sempit tersebut, terdapat tungku api yang digunakan untuk memasak, berdampingan langsung dengan tempat tidur YBR dan sang nenek. Aktivitas sehari-hari dilakukan di ruang yang sama.