Lombok Barat –
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Gudang Bulog di Kecamatan Lembar, Lombok Barat, Rabu (4/2/2026). Sidak tersebut dilakukan untuk memastikan ketersediaan beras menjelang Bulan Suci Ramadhan.
LAZ memastikan stok beras di Lombok Barat dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat hingga lima bulan ke depan.
“Ini kan 5.000 ton yang di sini. Sementara kebutuhan per bulan tadi pengeluaran di gudang 500 sampai 1.000 ton,” jelasnya, Rabu.
LAZ mengatakan masyarakat tidak perlu khawatir dengan ketersediaan beras di Lombok Barat. Sebab, kata dia, stok saat ini cukup melimpah apalagi dikalkulasikan dengan hasil panen petani pada bulan Februari yang diperkirakan mencapai 28.000 ton gabah atau 15.000 sampai 18.000 ton beras.
“Secara jadwal bulan Februari ini akan ada panen 500 hektare. Kalau rata-rata sekarang 5 ton setengah saja per hektare. Kita punya 28 ribu ton,” kata LAZ.
“Setengahnya kan harus bisa diserap oleh Bulog. Dan tadi saya sudah pastikan, bahwa harga gabah panen itu sesuai dengan harga yang ditetapkan pemerintah Rp 6.500 per kilogram,” sambungnya.
Namun saat sidak tersebut berlangsung, LAZ tidak diperbolehkan masuk ke dalam gudang Bulog untuk mengecek kualitas, dan hanya sebatas sampai di gerbang. Hal itu disebabkan, karena beras yang tersedia diketahui sedang dalam proses disungkup selama 10 hari.
Asisten Manajer Umum Bidang Humas dan Sekretariat Bulog Provinsi NTB, Az Fihar Ariandi, menjelaskan bahwa penyungkupan beras tersebut ialah proses perawatan beras untuk menghilangkan kutu atau serangga lainnya menggunakan metode pemberian obat pada beras.
“Bukan kami nggak kasih. Soalnya nggak boleh ada udara yang masuk (saat proses penyungkupan). Ketika sudah hari ke-11, baru dibuka seharian supaya bau obatnya hilang dan baru bisa kami masuk,” jelasnya.
Ia juga memastikan, stok beras di gudang tersebut bisa memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Lombok Barat bahkan Nusa Tenggara Barat (NTB) secara keseluruhan selama lima bulan ke depan.
Sebab, menurutnya persentase tingkat konsumsi masyarakat saat bulan biasa dengan ramadhan tidak mengalami perbedaan yang signifikan.






