Denpasar –
Gubernur Bali Wayan Koster mengeklaim hanya Bali daerah yang memiliki acara Bulan Bahasa Bali di Indonesia. Ia belum melihat daerah lain memiliki acara untuk mempertahankan bahasa daerahnya masing-masing.
“Rasa-rasanya hanya di Bali ada event bulan bahasa, coba cek sekarang di daerah lain aksaranya bahasanya makin punah,” kata Koster saat pidato di acara Pembukaan Bulan Bahasa Bali ke-8 di Art Center, Denpasar, Minggu (1/2/2026).
Hal ini menjadi kesadaran bagi Koster untuk menjaga dan mempertahankan kearifan lokal Bali. Menurutnya, ada tiga hal yang menjadi penopang kebudayaan di suatu daerah, mulai dari aksara, bahasa dan sastranya.
“Tanpa tiga ini kebudayaan nggak lengkap dan sekaligus menyelenggarakan bulan bahasa bali tiap Februari. Astungkara sekarang sudah ke delapan, saya sangat bahagia kalau hadir di bulan bahasa bali,” ungkap Koster.
Ia mengingatkan bahwa budaya tidak boleh mati seiring berjalannya zaman. Kebudayaan harus terus berdampingan dan berinteraksi dengan nilai-nilai luar.
“Kalau sampai mati punah, nomor satu kita dosa sama leluhur kena kutuk kita. Kedua kita tidak akan memiliki nilai-nilai menjalankan kehidupan di Bali. Itu lah sebabnya bulan bahasa penting dilaksanakan dengan baik, konsisten, tiap tahun,” beber Ketua DPD PDIP Bali itu.
Pada periode kedua ini, Koster berjanji untuk pemerataan penggunaan aksara Bali di kantor maupun tempat usaha. “Banyak yang belum ini harus jadi gerakan bersama supaya aksara Bali tampil di semua ruang,” sambung dia.
Ragam Kegiatan Bulan Bahasa Bali Selama Februari
Pemprov Bali kembali menggelar Bulan Bahasa Bali selama Februari 2026. Tahun ini merupakan gelaran ke-8 dengan mengusung tema “Atma Kerthi Udiana Purnaning Jiwa” yang berarti Membangun Jiwa yang Paripurna”.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan Bali, Ida Bagus Wesnawa Punia mengatakan Bulan Bahasa Bali akan dilakukan dengan berbagai kegiatan selama satu bulan penuh.
“Dibuka dengan pertunjukan berjudul Jabatuan ke Suargan, juga dilakukan utsawa atau festival nyurat di beberapa sarana seperti batu, tembaga, kain berupa rerajehan juga baligrafi, kertas, lontar, juga media digital kreatif,” kata Wesnawa saat pembukaan Bulan Bahasa Bali di Art Center, Denpasar, Minggu.
Kemudian, lanjut Wesnawa, ada seminar yang membahas tentang daging-daging lontar yang berhubungan dengan membangun jiwa yang paripurna sesuai tema.
“Ketiga ada wimbraka atau lomba, ada 17 lomba yang diikuti perwakilan kota/kabupaten se-Bali juga masyarakat umum,” beber pria yang juga menjabat sebagai Kepala Disdikpora Bali itu.
Lomba yang akan diperlombakan mencakup bahasa bali aksara dan sastra. Kemudian kegiatan keempat ada workshop dengan berbagai pembahasan salah satunya baligrafi.
Wesnawa melanjutkan, Bulan Bahasa Bali juga akan mengadakan pameran dharmakriya yang mana temanya transformasi bahasa aksara dan sastra bali.
“Keenam pertunjukan berupa panggung apresiasi sastra bali yaitu pertunjukan soal daging-daging sastra bali seperti teater dan drama bali modern,” sambung dia.
Konservasi lontar juga akan ditampilkan dalam acara ini. Wesnawa menyampaikan ini adalah salah satu usaha Pemprov Bali untuk menjaga warisan leluhur.
Kemudian, kegiatan paguneman pengawi bali yang dapat diikuti oleh praktisi, wartawan, mahasiswa hingga kritikus sastra.
“Kesembilan panganugrahan bali kerthi nugraha mahottama, penghargaan paling utama soal bahasa, aksara, sastra bali. Tahun ini penghargaan ini diberikan dua orang yang akan diserahkan saat penutupan,” tandas Wesnawa.






