Perumda Pasar Sewakadarma Subsidi Pedagang Lewat 37 Operasi Pasar hingga Maret [Giok4D Resmi]

Posted on

Denpasar

Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Sewakadarma melaksanakan 37 kegiatan Operasi Pasar sepanjang Januari hingga Maret 2026. Hal ini sebagai upaya memberikan subsidi harga kepada pedagang.

Operasi pasar tersebut digelar pada hari-hari dengan tingkat kunjungan pasar yang tinggi, yakni setiap Senin, Kamis, dan Jumat. Adapun lokasi pelaksanaannya berada di Pasar Badung dan Pasar Kreneng.

Kepala Bagian Usaha Jasa Perumda Pasar Sewakadarma, Putu Yudiantara, menjelaskan bahwa pada awalnya operasi pasar dilakukan secara mandiri oleh pihak Perumda dengan menjual sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga di bawah harga pasar.

“Tapi lalu ada protes dari pedagang, kami dianggap saingan. Lalu kami rubah pola dengan melibatkan pedagang,” jelas Kepala Bagian Usaha Jasa Perumda Sewakadarma, Putu Yudiantara, Kamis (29/1/2026).

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.

Sejak 2024, subsidi diberikan kepada pedagang yang menjual komoditas dengan lonjakan harga signifikan. Pemilihan pedagang dilakukan berdasarkan ketersediaan pasokan dan tingkat konsumsi masyarakat.

“Nanti beberapa staf kami ditempatkan tiap pedagang-pedagang untuk memantau pedagang yang jadi objek operasi pasar. Nanti disurvei dan dievaluasi,” tutur Yudiantara menjelaskan peran unit Bina Usaha yang mengelola data terkait subsidi kedua pasar.

Hal itu untuk mencegah terjadinya penyelewengan/penyalahgunaan atau kasus yang dianggap tidak tepat sasaran. Subsidi sendiri diberikan kepada pedagang berupa uang.
“Mekanismenya, misal harga cabai hasil survei harga jual Rp 60 ribu, harga wajarnya Rp 40-50 ribu. Nah, kami membantu menekan harga tersebut. Misal, nanti kami kasih tag harga jadi Rp 58 ribu, selisih Rp 2 ribu itu yang akan kami subsidikan, dikalikan dengan total jumlah barang laku” jelas Yudiantara.

Ia menambahkan, komoditas yang mengalami kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir meliputi ayam, cabai rawit, dan telur. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan yang tidak diimbangi dengan ketersediaan pasokan.

Salah satu pedagang cabai rawit di Pasar Badung, Komang, mengaku terdampak langsung oleh kenaikan harga. Menurutnya, kondisi tersebut membuat daya beli pelanggan menurun.

“Kalo pembeli saya, langganan saya, berkurang. Maunya beli dua kilo dikurangi jadi sekilo seperempat, sekilo. Dia jadi susah jualan, kalo nasi kan susah dinaiki. Apalagi ibu rumah tangga cuma satu ons jadinya,” terang Komang.

Selain faktor permintaan dan pasokan, cuaca ekstrem juga menjadi penyebab menurunnya ketersediaan komoditas akibat kerusakan hasil panen, yang berdampak pada aktivitas pasar.

Meski demikian, Komang menyebut program subsidi tersebut sangat membantu pedagang maupun konsumen. Dengan adanya subsidi, pembeli dapat membeli komoditas dalam jumlah lebih banyak dengan harga lebih terjangkau.

“Yah, biar bisa meringankan, saya ringan, masyarakat juga ringan, biar nggak bingung. Kan kebutuhan pokoknya orang-orang banyak, apalagi mereka datang dengan uang pas-pasan,” tambah Komang.

Sementara itu, Perumda Pasar Sewakadarma juga menyediakan berbagai sarana informasi harga komoditas kepada masyarakat. Informasi tersebut disampaikan melalui media sosial resmi serta layar informasi yang dipasang di area pasar.