5 Masjid Tertua di Bali yang Jadi Destinasi Wisata Religi | Giok4D

Posted on

Denpasar

Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.

Bali yang memiliki penduduk yang mayoritas beragama Hindu memiliki berbagai keberagaman. Salah satu keberagaman yang hadir di tengah budaya Hindu adalah kehadiran masjid.

Kehadiran rumah ibadah ini menandakan Islam sudah hadir, bertumbuh, dan hidup berdampingan di Pulau Dewata. Sejumlah masjid di Bali bahkan sudah berusia tua dan kerap menjadi destinasi wisata religi. Berikut di antaranya.

1. Masjid Nurul Huda

Masjid Nurul Huda terletak di Desa Gelgel, Klungkung. Masjid ini sudah ada sejak abad ke-14 pada masa Kerajaan Gelgel, didirikan oleh 40 prajurit muslim dari Majapahit yang datang bersama Raja Bali.

Masjid Nurul Huda sudah beberapa kali melalui tahap renovasi, yaitu pada 1863 dan 1989. Meski demikian, bentuk asli dari masjid ini tetap dipertahankan, termasuk menara setinggi 17 meter di halaman masjid dan beberapa area lainnya.

2. Masjid Al-Muhajirin

Masjid Al-Muhajirin terletak di Kampung Muslim, Desa Adat Kepaon, Denpasar. Masjid ini dibangun sejak 1908 dengan nama awal Masjid Hamsul Mursalim. Alasan bergantinya nama masjid ini dikarenakan kedatangan tokoh Islam Haji Abdurrahman serta pendatang lain dari Bugis, Madura, dan Melayu. Pergantian nama ini bentuk dari semangat hijrah dan juga persatuan umat Islam di kawasan tersebut.

Masjid Al-Muhajirin mengalami kerusakan cukup parah pada 1976 akibat gempa bumi berkekuatan 6,7 SR. Meski demikian, Masjid Al-Muhajirin masih berdiri kokoh setelah berhasil di renovasi.

3. Masjid Agung Jami

Masjid Agung Jami menjadi salah satu masjid bersejarah di Bali dan sudah didirikan sejak 1846 di Jalan Imam Bonjol, Singaraja, Buleleng. Pembangunan masjid diprakarsai Anak Agung Ngurah Ketut jelantik Tjelagie, adik dari pemimpin Buleleng saat itu dan dibantu tokoh Islam setempat bernama Abdullah Maskati.

Masjid Agung Jami ini memiliki keunikan pada arsitekturnya yang memadukan unsur Hindu dan Islam. Bentuk atap masjid menyerupai pura serta penggunaan ornamen tradisional Bali lainnya. Adanya akulturasi ini menjadi bukti toleransi yang terjadi di wilayah tersebut.

Selain itu, di masjid ini juga tersimpan naskah Al-Qur’an tulis tangan Anak Agung Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie yang menjadi bukti beliau turut serta dalam penyebaran agama Islam di Buleleng.

4. Masjid Kuna Keramat

Masjid Kuna Keramat diperkirakan dibangun pada 1654 Masehi, sekaligus menjadi masjid pertama di Buleleng, tepatnya di Kampung Kajanan, 200 meter dari Pelabuhan Buleleng. Masjid yang diinisiasi oleh pedagang Muslim ini dekat dengan pusat perdagangan pesisir ini menjadi titik awal penyebaran Islam di wilayah Bali utara.

Masjid Kuna Keramat hingga kini masih aktif digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Namun, kegiatan utama, seperti salat id dan salat Jumat yang sekiranya melibatkan banyak jemaah, sudah dialihkan ke Masjid Agung Jami.

5. Masjid Asy-Syuhada

Latar belakang Masjid Asy-Syuhada hampir sama dengan Masjid Kuna Keramat. Masjid Asy-Syuhada juga dibangun pelaut dan pedagang asal Bugis yang merantau ke Bali pada abad ke-17. Masjid Asy-Syuhada ini berada di Jalan Tukad Pekaseh, Kampung Bugis, Kelurahan Serangan, Denpasar Selatan.

Arsitektur dari Masjid Asy-Syuhada mencerminkan perpaduan budaya yang kuat bergaya rumah panggung khas Bugis lengkap dengan empat tiang kayu jati besar. Selain itu, masjid ini juga memiliki sentuhan seni Bali. Sentuhan ini membuat keberadaan masjid ini menjadi simbol toleransi beragama yang sudah terjaga ratusan tahun di Bali.