Khazanah sejarah Islam memiliki sebuah peristiwa agung yang sarat makna dan hikmah, yakni Isra Miraj. Pada tahun ini, Isra Miraj diperingati pada 27 Rajab 1447 H yang bertepatan dengan Jumat, 16 Januari 2026.
Peristiwa mulia ini menjadi pengingat akan perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW, ketika beliau diangkat menuju Sidratul Muntaha di langit ketujuh sebagai bentuk kedekatan hamba dengan Sang Pencipta. Dalam perayaan Isra Miraj, biasanya sering diselenggarakan lomba pidato atau familiar dengan kegiatan berpidato, nah artikel ini akan memberikan contoh pidato yang bisa digunakan untuk pidato Isra Mi’raj nanti.
5 Contoh Pidato Isra Miraj
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil alamin. Segala puji hanya milik Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang tidak pernah meninggalkan hamba-Nya dalam keadaan apa pun. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, sosok manusia paripurna yang menjadi teladan lahir dan batin bagi seluruh umat manusia.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Isra Miraj bukan sekadar peristiwa perjalanan menembus ruang dan waktu. Ia adalah perjalanan jiwa, perjalanan seorang hamba yang sangat manusiawi, lelah, sedih, dan terluka, namun tetap dipilih Allah untuk naik menuju kedekatan tertinggi dengan-Nya.
Peristiwa Isra Miraj terjadi setelah Rasulullah SAW melewati fase paling berat dalam hidupnya. Beliau kehilangan orang-orang terkasih, ditolak, dihina, dan disakiti. Allah SWT menggambarkan bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan orang beriman, sebagaimana firman-Nya:
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata ‘kami telah beriman’, sedangkan mereka belum diuji?” (QS. Al-Ankabut ayat 2)
Ayat ini menegaskan bahwa rasa lelah, sedih, dan luka bukan tanda lemahnya iman, melainkan bagian dari proses kedewasaan jiwa.
Namun yang luar biasa, Allah tidak memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk terus memaksa dirinya kuat tanpa jeda. Allah justru mengangkat Rasul-Nya, menjauhkan beliau sejenak dari hiruk-pikuk dunia, dan mempertemukannya langsung dengan kasih sayang Ilahi. Hal ini selaras dengan firman Allah SWT:
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah ayat 6)
Inilah falsafah pertama dari Isra Miraj. Allah tidak membenci kelelahan manusia. Allah memuliakan hamba yang merawat jiwanya dengan kembali kepada-Nya.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Dalam konteks ini, mencintai diri sendiri bukanlah egoisme, melainkan kesadaran bahwa diri kita adalah amanah dari Allah. Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah ayat 195)
Ayat ini mengajarkan bahwa menjaga diri, menjaga jiwa, dan menjaga kesehatan batin adalah bagian dari ketaatan kepada Allah.
Rasulullah SAW pun tidak menutup-nutupi kesedihannya. Beliau mengakui kemanusiaannya, lalu menyerahkan semuanya kepada Allah. Bahkan dalam kondisi paling berat, beliau tetap berdoa dan bersujud. Inilah bentuk mencintai diri yang diajarkan Islam, mengenali batas diri, lalu kembali kepada Allah.
Isra Miraj mengajarkan kita bahwa ketika hidup terasa terlalu berat dan dunia terasa tidak adil, kita berhak berhenti sejenak, bukan untuk lari, tetapi untuk naik, mendekat kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d ayat 28)
Hadirin sekalian,
Puncak dari Isra Miraj adalah perintah salat. Inilah pesan paling lembut tentang mencintai diri sendiri dalam Islam. Salat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi ruang aman spiritual. Allah berfirman:
“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu.” (QS. Al-Baqarah ayat 45)
Salat adalah waktu di mana kita boleh lelah, boleh menangis, dan boleh rapuh selama kita bersujud. Rasulullah SAW bersabda:
“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat.” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini menunjukkan bahwa salat adalah tempat istirahat jiwa, bukan beban.
Mencintai diri sendiri dalam Islam bukan berarti memanjakan hawa nafsu, tetapi menjaga jiwa agar tidak hancur oleh dunia. Dan salat adalah penjaga itu. Allah SWT juga menegaskan:
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut ayat 45)
Hadirin yang dirahmati Allah,
Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa mencintai diri berarti tidak membiarkan diri terus berada di lingkungan yang melukai iman. Dalam Isra, Rasulullah dipindahkan dari Makkah ke Baitul Maqdis. Sebuah isyarat bahwa Allah kadang menyelamatkan hamba-Nya dengan cara menjauhkan mereka dari tempat yang menyakiti.
Ketika hari ini kita memilih menjaga batasan, menjauh dari hubungan yang merusak jiwa, atau meninggalkan kebiasaan yang melemahkan iman, itu bukan tanda lemahnya iman. Justru itu adalah bentuk syukur atas nikmat diri yang Allah titipkan. Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Termasuk menjaga diri kita sendiri agar selamat dari luka yang tidak perlu.
Hadirin yang berbahagia,
Isra Miraj juga mengajarkan bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh penerimaan manusia, tetapi oleh kedekatan kita dengan Allah. Rasulullah SAW ditolak di bumi, tetapi dimuliakan di langit. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat ayat 13)
Maka jangan pernah merendahkan diri hanya karena dunia tidak memahami kita. Bisa jadi Allah sedang mempersiapkan perjalanan batin yang lebih tinggi, sebagaimana Rasulullah SAW dipersiapkan untuk Miraj setelah masa luka.
Hadirin sekalian,
Mari kita jadikan peringatan Isra Miraj ini sebagai momentum untuk berdamai dengan diri sendiri tanpa menjauh dari Allah. Mencintai diri bukan berarti melupakan kewajiban, tetapi menjalani ibadah dengan kesadaran dan kasih sayang.
Rawat iman kita. Jaga salat kita. Lindungi hati kita dari keputusasaan. Karena Allah sendiri menegaskan:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah ayat 286)
Sebelum mengakhiri pidato ini, marilah kita berdoa:
Allahumma ya Allah, ajarkan kami mencintai diri kami sebagaimana Engkau mencintai hamba-Mu. Kuatkan iman kami saat kami lelah, dekatkan kami kepada-Mu saat dunia terasa berat, dan jangan Engkau biarkan kami berjalan tanpa cahaya-Mu.
Akhir kata, semoga Isra Miraj tidak hanya kita peringati, tetapi kita hayati sebagai perjalanan batin menuju diri yang lebih utuh, lebih tenang, dan lebih dekat kepada Allah SWT.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil alamin. Segala puji hanya milik Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang tidak pernah meninggalkan hamba-Nya dalam keadaan apa pun. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, sosok manusia paripurna yang menjadi teladan lahir dan batin bagi seluruh umat manusia.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Isra Miraj bukan sekadar peristiwa perjalanan menembus ruang dan waktu. Ia adalah perjalanan jiwa, perjalanan seorang hamba yang sangat manusiawi, lelah, sedih, dan terluka, namun tetap dipilih Allah untuk naik menuju kedekatan tertinggi dengan-Nya.
Peristiwa Isra Miraj terjadi setelah Rasulullah SAW melewati fase paling berat dalam hidupnya. Beliau kehilangan orang-orang terkasih, ditolak, dihina, dan disakiti. Allah SWT menggambarkan bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan orang beriman, sebagaimana firman-Nya:
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata ‘kami telah beriman’, sedangkan mereka belum diuji?” (QS. Al-Ankabut ayat 2)
Ayat ini menegaskan bahwa rasa lelah, sedih, dan luka bukan tanda lemahnya iman, melainkan bagian dari proses kedewasaan jiwa.
Namun yang luar biasa, Allah tidak memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk terus memaksa dirinya kuat tanpa jeda. Allah justru mengangkat Rasul-Nya, menjauhkan beliau sejenak dari hiruk-pikuk dunia, dan mempertemukannya langsung dengan kasih sayang Ilahi. Hal ini selaras dengan firman Allah SWT:
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah ayat 6)
Inilah falsafah pertama dari Isra Miraj. Allah tidak membenci kelelahan manusia. Allah memuliakan hamba yang merawat jiwanya dengan kembali kepada-Nya.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Dalam konteks ini, mencintai diri sendiri bukanlah egoisme, melainkan kesadaran bahwa diri kita adalah amanah dari Allah. Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah ayat 195)
Ayat ini mengajarkan bahwa menjaga diri, menjaga jiwa, dan menjaga kesehatan batin adalah bagian dari ketaatan kepada Allah.
Rasulullah SAW pun tidak menutup-nutupi kesedihannya. Beliau mengakui kemanusiaannya, lalu menyerahkan semuanya kepada Allah. Bahkan dalam kondisi paling berat, beliau tetap berdoa dan bersujud. Inilah bentuk mencintai diri yang diajarkan Islam, mengenali batas diri, lalu kembali kepada Allah.
Isra Miraj mengajarkan kita bahwa ketika hidup terasa terlalu berat dan dunia terasa tidak adil, kita berhak berhenti sejenak, bukan untuk lari, tetapi untuk naik, mendekat kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d ayat 28)
Hadirin sekalian,
Puncak dari Isra Miraj adalah perintah salat. Inilah pesan paling lembut tentang mencintai diri sendiri dalam Islam. Salat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi ruang aman spiritual. Allah berfirman:
“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu.” (QS. Al-Baqarah ayat 45)
Salat adalah waktu di mana kita boleh lelah, boleh menangis, dan boleh rapuh selama kita bersujud. Rasulullah SAW bersabda:
“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat.” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini menunjukkan bahwa salat adalah tempat istirahat jiwa, bukan beban.
Mencintai diri sendiri dalam Islam bukan berarti memanjakan hawa nafsu, tetapi menjaga jiwa agar tidak hancur oleh dunia. Dan salat adalah penjaga itu. Allah SWT juga menegaskan:
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut ayat 45)
Hadirin yang dirahmati Allah,
Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa mencintai diri berarti tidak membiarkan diri terus berada di lingkungan yang melukai iman. Dalam Isra, Rasulullah dipindahkan dari Makkah ke Baitul Maqdis. Sebuah isyarat bahwa Allah kadang menyelamatkan hamba-Nya dengan cara menjauhkan mereka dari tempat yang menyakiti.
Ketika hari ini kita memilih menjaga batasan, menjauh dari hubungan yang merusak jiwa, atau meninggalkan kebiasaan yang melemahkan iman, itu bukan tanda lemahnya iman. Justru itu adalah bentuk syukur atas nikmat diri yang Allah titipkan. Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Termasuk menjaga diri kita sendiri agar selamat dari luka yang tidak perlu.
Hadirin yang berbahagia,
Isra Miraj juga mengajarkan bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh penerimaan manusia, tetapi oleh kedekatan kita dengan Allah. Rasulullah SAW ditolak di bumi, tetapi dimuliakan di langit. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat ayat 13)
Maka jangan pernah merendahkan diri hanya karena dunia tidak memahami kita. Bisa jadi Allah sedang mempersiapkan perjalanan batin yang lebih tinggi, sebagaimana Rasulullah SAW dipersiapkan untuk Miraj setelah masa luka.
Hadirin sekalian,
Mari kita jadikan peringatan Isra Miraj ini sebagai momentum untuk berdamai dengan diri sendiri tanpa menjauh dari Allah. Mencintai diri bukan berarti melupakan kewajiban, tetapi menjalani ibadah dengan kesadaran dan kasih sayang.
Rawat iman kita. Jaga salat kita. Lindungi hati kita dari keputusasaan. Karena Allah sendiri menegaskan:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah ayat 286)
Sebelum mengakhiri pidato ini, marilah kita berdoa:
Allahumma ya Allah, ajarkan kami mencintai diri kami sebagaimana Engkau mencintai hamba-Mu. Kuatkan iman kami saat kami lelah, dekatkan kami kepada-Mu saat dunia terasa berat, dan jangan Engkau biarkan kami berjalan tanpa cahaya-Mu.
Akhir kata, semoga Isra Miraj tidak hanya kita peringati, tetapi kita hayati sebagai perjalanan batin menuju diri yang lebih utuh, lebih tenang, dan lebih dekat kepada Allah SWT.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, teladan terbaik dalam iman, akhlak, dan kepedulian terhadap sesama.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Isra Miraj merupakan peristiwa agung yang tidak hanya mengajarkan tentang keimanan dan ketaatan, tetapi juga tentang nilai kemanusiaan dan keindahan berbagi. Perjalanan suci Nabi Muhammad SAW ini terjadi pada masa yang penuh kesedihan, ketika beliau berada dalam kondisi lelah secara fisik dan batin. Namun justru dari titik itulah Allah memperlihatkan kasih sayang-Nya dan menguatkan Rasul-Nya.
Dalam peristiwa Isra, Rasulullah SAW diperjalankan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa. Di tempat suci itu, beliau bertemu dengan para nabi terdahulu dan menjadi imam salat. Hal ini menunjukkan bahwa risalah Islam adalah risalah kebersamaan, risalah yang menyatukan, dan risalah yang mengajarkan untuk saling menguatkan.
Keindahan berbagi dalam Isra Miraj dapat kita lihat dari sikap Rasulullah SAW yang tidak pernah menyimpan kebaikan hanya untuk dirinya sendiri. Ketika beliau menerima perintah salat, perintah tersebut tidak hanya menjadi anugerah pribadi, tetapi menjadi hadiah bagi seluruh umatnya. Rasulullah SAW berbagi nikmat spiritual itu kepada kita semua, agar umatnya memiliki jalan untuk mendekat kepada Allah dan menenangkan hati.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Berbagi tidak selalu berarti harta. Berbagi juga berarti waktu, perhatian, doa, dan empati. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kebaikan sekecil apa pun memiliki nilai besar di sisi Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, berbagi bisa hadir dalam bentuk mendengarkan keluh kesah orang lain, membantu tanpa diminta, atau sekadar menghadirkan senyum yang tulus.
Isra Miraj juga mengajarkan bahwa berbagi adalah bentuk syukur. Ketika seseorang telah merasakan kasih sayang Allah, maka wujud syukur yang paling indah adalah menyalurkan kebaikan itu kepada sesama. Semakin kita berbagi, semakin lapang hati kita, dan semakin kuat ikatan kemanusiaan di antara kita.
Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, nilai berbagi menjadi sangat penting. Banyak orang terlihat baik-baik saja, tetapi sebenarnya sedang memikul beban yang berat. Kehadiran kita, kepedulian kita, dan kesediaan kita untuk berbagi dapat menjadi cahaya kecil yang berarti besar bagi mereka.
Hadirin yang berbahagia,
Melalui peringatan Isra Miraj ini, mari kita jadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam berbagi. Mari kita belajar untuk tidak hidup hanya untuk diri sendiri, tetapi juga peka terhadap keadaan sekitar. Berbagi tidak akan mengurangi apa yang kita miliki, justru akan menumbuhkan keberkahan dalam hidup kita.
Semoga Allah SWT melembutkan hati kita, menjadikan kita pribadi yang ringan tangan, lapang dada, dan tulus dalam berbagi kebaikan. Semoga peringatan Isra Miraj ini menjadi pengingat bahwa iman yang kuat selalu tercermin dari kepedulian terhadap sesama.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa membimbing hamba-Nya melalui berbagai peristiwa kehidupan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, teladan terbaik dalam kesabaran, keteguhan iman, dan keluhuran akhlak.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Isra Miraj adalah peristiwa agung yang tidak hanya mengajarkan tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW menuju langit, tetapi juga mengajarkan perjalanan hati seorang hamba dalam menghadapi ujian kehidupan. Peristiwa ini terjadi pada masa ketika Rasulullah SAW berada dalam kondisi yang sangat berat, setelah kehilangan orang-orang terkasih dan menghadapi penolakan dari kaumnya.
Namun dari peristiwa inilah kita belajar bahwa ujian hidup bukan tanda Allah membenci hamba-Nya. Sebaliknya, ujian sering kali menjadi jalan untuk mendewasakan hati dan meninggikan derajat seseorang di sisi Allah. Rasulullah SAW tidak membiarkan kesedihan mengubah akhlaknya. Beliau tetap lembut, tetap sabar, dan tetap mendoakan orang-orang yang menyakitinya.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Menjaga hati merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim. Hati yang terjaga akan melahirkan sikap yang baik, tutur kata yang lembut, dan perbuatan yang penuh pertimbangan. Isra Miraj mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah adalah kunci untuk menenangkan hati dan membersihkan jiwa dari rasa dendam, iri, dan putus asa.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada berbagai masalah, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun pergaulan. Tidak jarang masalah tersebut membuat hati menjadi keras dan emosi sulit dikendalikan. Melalui peringatan Isra Miraj ini, kita diajak untuk kembali menata hati dan memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT.
Salat yang diwajibkan dalam peristiwa Isra Miraj bukan hanya ritual ibadah, tetapi juga sarana untuk menjaga hati. Dalam salat, kita diajak untuk berhenti sejenak dari urusan dunia, menundukkan diri, dan menyadari bahwa semua beban hidup dapat kita serahkan kepada Allah.
Hadirin yang berbahagia,
Akhlak yang baik tidak lahir secara instan. Akhlak tumbuh dari hati yang bersih dan iman yang kuat. Rasulullah SAW adalah contoh nyata bahwa keindahan akhlak mampu mengubah kebencian menjadi penghormatan dan penolakan menjadi penerimaan. Inilah kekuatan akhlak yang perlu kita teladani dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui peringatan Isra Miraj ini, mari kita berusaha untuk menjaga hati agar tetap bersih, menjaga lisan agar tidak menyakiti, dan menjaga sikap agar selalu mencerminkan nilai-nilai Islam. Sebab, akhlak yang baik adalah cerminan dari iman yang hidup di dalam hati.
Hadirin yang dirahmati Allah.
Semoga peringatan Isra Miraj ini menjadi momentum bagi kita semua untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan memperindah akhlak. Mari kita jadikan setiap ujian sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan menjauh dari-Nya.
Akhir kata, semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita, menenangkan hati kita, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang berakhlak mulia.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa membimbing hamba-Nya melalui berbagai peristiwa kehidupan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, teladan terbaik dalam kesabaran, keteguhan iman, dan keluhuran akhlak.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Isra Miraj adalah peristiwa agung yang tidak hanya mengajarkan tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW menuju langit, tetapi juga mengajarkan perjalanan hati seorang hamba dalam menghadapi ujian kehidupan. Peristiwa ini terjadi pada masa ketika Rasulullah SAW berada dalam kondisi yang sangat berat, setelah kehilangan orang-orang terkasih dan menghadapi penolakan dari kaumnya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu.” (QS. Muhammad ayat 31)
Ayat ini menegaskan bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan orang beriman. Bukan sebagai tanda kebencian Allah, melainkan sebagai cara Allah mendewasakan hati dan meninggikan derajat hamba-Nya.
Namun dari peristiwa Isra Miraj inilah kita belajar bahwa ujian hidup bukan tanda Allah membenci hamba-Nya. Rasulullah SAW tidak membiarkan kesedihan mengubah akhlaknya. Beliau tetap lembut, tetap sabar, dan tetap mendoakan orang-orang yang menyakitinya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh setelahnya.” (HR. Tirmidzi)
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Menjaga hati merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim. Hati yang terjaga akan melahirkan sikap yang baik, tutur kata yang lembut, dan perbuatan yang penuh pertimbangan. Rasulullah SAW bersabda:
“Ketahuilah, di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Isra Miraj mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah adalah kunci untuk menenangkan hati dan membersihkan jiwa dari rasa dendam, iri, dan putus asa. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada berbagai masalah yang membuat hati menjadi keras dan emosi sulit dikendalikan. Oleh karena itu, Allah SWT mengingatkan kita:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d ayat 28)
Hadirin yang berbahagia,
Salat yang diwajibkan dalam peristiwa Isra Miraj bukan hanya ritual ibadah, tetapi juga sarana untuk menjaga hati. Dalam salat, kita diajak untuk berhenti sejenak dari urusan dunia, menundukkan diri, dan menyerahkan seluruh beban hidup kepada Allah SWT. Allah berfirman:
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut ayat 45)
Ayat ini menunjukkan bahwa salat yang dilakukan dengan kesadaran dan kekhusyukan akan membentuk kepribadian dan akhlak seorang muslim.
Akhlak yang baik tidak lahir secara instan. Akhlak tumbuh dari hati yang bersih dan iman yang kuat. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Inilah bukti bahwa inti ajaran Islam bukan hanya ibadah lahiriah, tetapi juga keindahan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Melalui peringatan Isra Miraj ini, mari kita berusaha menjaga hati agar tetap bersih, menjaga lisan agar tidak menyakiti, dan menjaga sikap agar selalu mencerminkan nilai-nilai Islam. Sebab, akhlak yang baik adalah cerminan dari iman yang hidup di dalam hati.
Semoga peringatan Isra Miraj ini menjadi momentum bagi kita semua untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan memperindah akhlak. Mari kita jadikan setiap ujian sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan menjauh dari-Nya.
Akhir kata, semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita, menenangkan hati kita, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang berakhlak mulia.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Berikut lima contoh pidato yang dapat disampaikan dalam kegiatan peringatan Isra Miraj, baik di masjid maupun dalam acara perayaan yang diselenggarakan di lingkungan masyarakat. Semoga dapat menjadi referensi dan bermanfaat!






