Mataram –
Ada sederet peristiwa populer di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam sepekan terakhir. Salah satunya, sebanyak 132 siswa keracunan menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Manggarai Barat, NTT. Hal itu berujung pada penutupan sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat.
Berikutnya, di Mataram seorang pria melakukan aksi biadab di luar nalar. Dia tega membunuh lalu membakar mayat ibu kandungnya sendiri hanya gara-gara tidak diberi uang.
Sementara itu, di Lombok Timur, seorang pimpinan pondok pesantren (ponpes) dilaporkan atasa dugaan memerkosa dua santriwatinya dan diduga masih ada korban lain.
Di Sumba Barat Daya, seorang pria tewas dibacok saat nonton Pasola atau permainan ketangkasan melempar lembing dari atas kuda. Total, ada lima pelaku yang menganiaya korban.
Berikut rangkuman berita terpopuler selama sepekan di wilayah Nusra dalam rubrik Nusra Sepekan di.
1. 132 Siswa Keracunan MBG
Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Kuwus di Kecamatan Kuwus, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), menolak pembagian menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Penolakan dilakukan seusai ratusan siswa dari sejumlah sekolah di daerah tersebut diduga keracunan menu MBG.
Kepala SMPN 2 Kuwus, Agustinus Angkur, mengungkapkan jumlah siswa di sekolahnya diduga mengalami keracunan MBG sebanyak 31 orang. Ia menyebut penolakan pembagian MBG itu telah disampaikan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG Kuwus Barat Kolang.
“Kemarin kami menolak karena mengingat kondisi anak-anak yang sakit,” kata Agustinus, Jumat (30/1/2026).
Menurut Agustinus, para siswa di sekolahnya tidak lagi mendapat MBG hari ini. Ia juga mendapat pemberitahuan dari SPPG Kuwus Barat Kolang bahwa operasional SPPG tersebut ditutup sementara hingga batas waktu yang tidak ditentukan.
“Untuk hari ini kami tidak menyampaikan penolakan,” jelas Agustinus.
Sebelumnya, sebanyak 132 siswa diduga keracunan seusai menyantap menu MBG di Kecamatan Kuwus, Manggarai Barat, pada Kamis (29/1/2026). Adapun menu MBG yang didistribusikan, yakni nasi putih, tempe krispi, telur kukus sambalado, sayur taoge, sayur labu, sayur sawi hijau, dan semangka.
Para pelajar yang keracunan tersebar di sejumlah sekolah di Kecamatan Kuwus. Mulai dari SMAN 1 Kuwus (42), SMKN 1 Kuwus (9), SMPN 2 Kuwus (31), SDI Golowelu 2 (20), dan SDI Golo Bombong (30).
“Gejala mual, muntah, nyeri perut dan diare,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Manggarai Barat, Adrianus Ojo, Jumat.
Merespons keracunan tersebut, Kuwus Barat Kolang ditutup sementara. Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan observasi internal selama penutupan sementara dapur MBG tersebut. Observasi dilakukan untuk memastikan SPPG tersebut mematuhi seluruh protokol keamanan pangan.
“Koordinator wilayah SPPG Kabupaten Manggarai Barat telah mengeluarkan perintah untuk menghentikan sementara seluruh kegiatan produksi dan distribusi makanan dari fasilitas terkait hingga observasi internal dari pihak BGN dan seluruh protokol keamanan pangan dapat dipastikan telah dipatuhi,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Manggarai Barat, Adrianus Ojo, dalam keterangannya seusai pengujian laboratorium sejumlah sampel, Jumat (30/1/2026).
Adrianus menjelaskan keputusan menutup sementara SPPG itu karena pemeriksaan terhadap sampel menu MBG yang dikonsumsi siswa pada hari kejadian tidak dapat dilakukan. Menurutnya, tim surveilans dari Dinkes Manggarai Barat tidak menemukan sampel makanan tersebut.
“Pemeriksaan sampel makanan tidak dapat dilakukan. Alasan utamanya adalah tidak tersedianya sampel makanan (food sample bank) dari produksi hari kejadian,” jelas Adrianus.
2. Pimpinan Ponpes Diduga Perkosa 2 Santriwati
Seorang pimpinan salah satu pondok pesantren (ponpes) di Kecamatan Sukamulia, Lombok Timur, diduga memerkosa dua santriwati.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, Joko Jumadi, mengatakan laporan dugaan kekerasan seksual tersebut telah disampaikan kepada Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (PPA dan PPO) Polda NTB.
“Korbannya ada dua. Tapi dugaan kami masih ada korban lain,” sebut Joko selaku pendamping korban, Kamis (29/1/2026).
Pelaku melakukan aksinya berkali-kali. Bahkan, pimpinan ponpes itu melakukan pemerkosaan terhadap salah satu korban sejak 2016. Korban lainnya dirudapaksa pada 2024.
“Saat kejadian korban masih di bawah umur,” katanya.
Korban yang disetubuhi sejak 2016 itu kini tidak lagi menjadi santriwati. Statusnya juga sudah menikah. Kendati demikian, terduga masih bisa memperdaya korban untuk melampiaskan nafsu birahinya.
“Lima tahun selama sekolah berkali-kali sampai setelah dia (korban) menikah, masih bisa diperdaya untuk disetubuhi. Makanya dia (korban) depresi berat,” sebutnya.
Joko menyebut pimpinan ponpes tersebut melancarkan aksinya dengan berbagai modus. Salah satunya membersihkan rahim korban.
“Modus membersihkan rahim. Kemudian juga ada tipu daya,” katanya.
Tipu daya yang dilakukan oknum itu, dengan menyebutkan bahwa yang melakukan perbuatan persetubuhan itu bukan dirinya. Melainkan jin yang sedang merasuki dirinya.
“Kemudian, dia (pimpinan ponpes) juga sudah mempersiapkan dengan menyampaikan kepada jemaahnya bahwa suatu saat dia akan difitnah,” tandasnya.
Terpisah, Dirres PPA dan PPO Polda NTB, Kombes Ni Made Pujewati, akan mengecek laporan kekerasan seksual tersebut. “Saya masih tugas (di) luar kota. Saya cek dulu ya,” timpalnya.
3. Anak Durhaka Bunuh-Bakar Ibu
Kasus penemuan mayat manusia dalam kondisi hangus terbakar di Dusun Batu Leong, Desa Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, akhirnya terungkap. Polisi menangkap pria bernama Bara Primario alias BP (33). Mayat yang terbakar itu adalah Yeni Yudi Astuti, ibu kandung Bara. Pembunuh dan pembakar mayat Reni adalah Bara.
Tim Jatanras Polda NTB menangkap Bara pada Senin (27/1/2026) tengah malam di daerah Monjok Baru, Kelurahan Monjok Timur, Kota Mataram.
Bara sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan terhadap ibunya. Dia dijerat pasal 459 KUHP juncto Pasal 458 UU Nomor 1 tahun 2023 tentang KUHP. Bara terancam maksimal hukuman mati atau seumur hidup.
Polda NTB mengungkap motif pembunuhan keji yang dilakukan Bara, warga Monjok Baru, Kelurahan Monjok Timur, Kota Mataram, NTB terhadap ibu kandungnya, Reni Yudi Astuti.
Kabid Humas Polda NTB, Kombes Mohammad Kholid, mengatakan motif pembunuhan hingga jasad Reni Yudi Astuti dibakar oleh pelaku dipicu rasa sakit hati.
“Jadi, pelaku ini merasa sakit hati (terhadap korban),” kata Kholid, Selasa (27/1/2026).
Bara awalnya meminta uang sebesar Rp 39 juta kepada ibunya untuk membayar utang. Namun, permintaan itu tak dikabulkan. Penolakan tersebut membuat Bara sakit hati terhadap ibunya sendiri.
“Sehingga, (pelaku) merasa sakit hati dan terjadilah peristiwa pembunuhan tersebut,” sebutnya.
Pelaku menghabisi nyawa ibu kandungnya pada Minggu (25/1/2026) dini hari, di rumahnya. Di rumah itu, pelaku dan korban hanya tinggal berdua.
Pagi harinya, jasad korban dibawa menuju Sekotong, Lombok Barat, menggunakan mobil Innova Reborn warna putih, miliknya.
Di pertengahan jalan, Bara berhenti untuk membeli Pertalite yang digunakan untuk membakar jasad korban. Tujuannya untuk menghilangkan jejak.
Polisi mengungkapkan modus pembunuhan yang dilakukan Bara. Yakni, Bara melilitkan tali ke leher ibu yang telah melahirkannya itu saat tidur hingga tewas.
“Modus operandi dari kejadian ini, pelaku pada saat memberikan keterangan, pelaku melakukan perbuatannya dengan cara melilitkan tali di bagian leher ibu kandungnya yang pada saat itu tertidur pulas,” kata Kabid Humas Polda NTB, Kombes Mohammad Kholid, dalam konferensi pers.
Bara menarik tali yang melilit leher ibunya itu dengan sekuat tenaga. “Sehingga, menyebabkan korban meninggal dunia,” sebutnya.
4. Pria Tewas Dibacok Saat Nonton Pasola
Pria bernama Agustinus Radu Lota (32) dibacok oleh lima orang hingga tewas saat sedang menonton pasola di lapangan Sekolah Dasar (SD) Masehi Kori, Desa Kori, Kecamatan Kodi Utara, SBD, Rabu (28/1/2026). Lima pelaku pembacokan adalah Rofinus Rangga (41), Marsel Rangga (32), Jhoni Rangga (28), Mikael (25) dan Radu Bungsu (26).
“Ya kejadiannya sekitar pukul 17.00 Wita saat korban menonton pasola. Korban meninggal di TKP (tempat kejadian perkara),” ujar Kepala Seksi Hubungan Masyarakat (Kasi Humas) Polres SBD, AKP Bernardus Mbili Kandi, kepada, Jumat (30/1/2026).
Bernardus menuturkan pembacokan itu bermula saat Agustinus bersama temannya, Dominggus Gheru Kaka (24), sedang melintasi SD Masehi Kori dan melihat banyak orang sedang latihan pasola. Mereka kemudian tertarik untuk menonton.
Agustinus kala itu memilih menonton dari pinggir jalan, tepatnya di depan Kantor Camat Kodi Utara. Sedangkan, Dominggus menonton dari atas tribun. Tak berselang lama, Dominggus melihat Rofinus Rangga memukul Agustinus dengan sebatang kayu di bagian kepalanya.
Hal itu membuat Agustinus langsung berusaha melarikan diri. Namun, Marsel Rangga mengejarnya lalu membacoknya di bagian kepala sebanyak satu kali. Saat bersamaan, Jhoni Rangga yang sedang menunggangi kudanya langsung memukulnya dengan lembing hingga tersungkur.
Setelah terjatuh, Marsel bersama Jhoni, Mikael, dan Radu langsung membacoknya secara membabi buta di sekujur tubuhnya hingga Agustinus tewas di TKP.
“Pada saat kejadian, teman korban (Dominggus) sempat teriak agar para pelaku menghentikan perbuatannya, tetapi mereka tak hiraukan dan terus-menerus membacok korban,” tutur Bernardus.
Setelah membacok Agustinus, para pelaku tersebut langsung melarikan diri. Sedangkan, Dominggus juga memilih pulang ke rumahnya di Kampung Kalembu Bendu, Desa Kalembu Bendu, Kecamatan Kodi Utara, menggunakan jasa ojek.
“Kalau pelaku belum bisa diamankan karena masih bersembunyi dan sedang dalam pengejaran,” jelas Bernardus.






