Denpasar –
Gagal ginjal kini tak lagi identik dengan usia lanjut. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak pasien usia muda yang harus menjalani cuci darah atau hemodialisis karena fungsi ginjalnya menurun drastis.
Kondisi ini menjadi peringatan serius, sebab sebagian besar pemicunya berkaitan dengan penyakit dan kebiasaan yang sebenarnya bisa dicegah.
Dokter spesialis urologi konsultan dari Siloam Hospitals Asri, Prof Dr dr Nur Rasyid, SpU(K), mengungkapkan terdapat tiga faktor utama yang mendominasi kasus gagal ginjal di Indonesia.
“Bahwa orang gagal ginjal itu di Indonesia itu 29 persen diabetes, 20 persen infeksi, dan 19 persen hipertensi,” kata Prof Nur, dilansir dari, Selasa (17/2/2026).
Angka tersebut menunjukkan diabetes menjadi penyebab terbesar, disusul infeksi dan hipertensi. Ketiganya berkontribusi signifikan terhadap meningkatnya kasus gagal ginjal di berbagai kelompok usia, termasuk usia produktif.
Kebiasaan yang Memicu Kerusakan Ginjal
Menurut Prof Nur, sejumlah kebiasaan sehari-hari tanpa disadari dapat mempercepat kerusakan ginjal.
1. Konsumsi Garam Berlebihan
Makanan asin kerap menjadi bagian dari pola makan masyarakat. Namun, konsumsi garam berlebih dapat memicu hipertensi atau tekanan darah tinggi. Jika tidak terkontrol, hipertensi dapat merusak pembuluh darah ginjal dan menurunkan fungsinya secara bertahap.
“Biar nggak hipertensi, jangan banyak makan garam,” tegas Prof Nur.
Mengurangi asupan garam merupakan langkah sederhana namun efektif untuk mencegah komplikasi jangka panjang pada ginjal.
2. Terlalu Sering Mengonsumsi Makanan dan Minuman Manis
Selain garam, konsumsi gula berlebih juga menjadi faktor risiko utama. Asupan gula yang tinggi meningkatkan risiko obesitas dan diabetes, yang merupakan penyebab terbesar gagal ginjal di Indonesia.
“Biar nggak diabetes, ya hidup sehat. Jangan gendut, jangan seneng manis, jangan makan karbohidrat berlebihan,” kata Prof Nur.
“Minum yang cukup biar nggak gendut, olahraga teratur,” sambungnya.
Pola makan seimbang, menjaga berat badan ideal, serta rutin berolahraga menjadi kunci pencegahan.
3. Mengabaikan Infeksi
Gagal ginjal tidak selalu berawal dari penyakit metabolik. Dalam sejumlah kasus, infeksi yang terlambat ditangani dapat menyebabkan kerusakan ginjal, baik akut maupun kronis.
Infeksi yang sering dianggap ringan seperti infeksi saluran kemih (ISK) berisiko menimbulkan komplikasi bila tidak diobati dengan tepat. Pada kondisi berat, infeksi dapat berkembang menjadi sepsis yang membahayakan organ vital, termasuk ginjal.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
“Kalau infeksi, begitu adalah keluhan demam segala macam datanglah ke dokter supaya diobatin dengan betul,” tutup Prof Nur.
Pentingnya Deteksi Dini
Ginjal berfungsi menyaring limbah dan cairan berlebih dari darah. Kerusakan pada organ ini kerap berlangsung tanpa gejala pada tahap awal. Karena itu, pemeriksaan kesehatan rutin, terutama bagi penderita diabetes dan hipertensi, sangat dianjurkan.
Lonjakan kasus gagal ginjal di usia muda menjadi pengingat bahwa gaya hidup sehat dan penanganan infeksi secara cepat bukan sekadar anjuran, melainkan kebutuhan untuk mencegah kerusakan ginjal yang permanen.
