230 Sekaa Taruna Ramaikan Kasanga Festival 2026 di Denpasar

Posted on

Denpasar

Sebanyak sekitar 230 Sekaa Taruna (ST) dari seluruh banjar di Kota Denpasar dipastikan ambil bagian dalam Kasanga Festival 2026 pada kategori Lomba Ogoh-ogoh besar. Hingga awal Februari, progres persiapan para peserta telah melampaui 50 persen.

“Persiapan banjar-banjar tentu sudah sangat sat-set. Mengingat waktu yang sangat terbatas, banyak yang bertanya-tanya kapan penilaiannya. Karena memang rencananya surprise,” jelas Koordinator Tim Kreatif Kasanga Festival 2026, Gede Adrian Maha Putra, ketika ditemui, Jumat (6/2/2026).

Panitia sengaja belum mengumumkan agenda lanjutan lomba guna menjaga keseriusan peserta sekaligus mempertimbangkan kebutuhan koordinasi lintas pihak, mengingat Kasanga Festival merupakan salah satu agenda budaya bergengsi di Denpasar.

“Sekarang masih persiapan teknis sih. Mapping, mockup, terus ada penjualan baju (merchandise). Sejauh ini kami juga paling banyak menyiapkan konten-konten, video, pamflet,” terang Putra

Pelaksanaan Kasanga Festival 2026 dijadwalkan pada 6-8 Maret 2026 di kawasan Catur Muka hingga Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung. Dengan membawa sesuatu yang baru, Kasanga Festival 2026 memiliki tema spesifik untuk ogoh-ogoh yaitu Jala Sidhi Shuvita atau Memuliakan Air untuk Kesejahteraan.

“Pertama kali Kasanga Fest menerapkan tema. Bukannya ingin membatasi kreativitas dari teman-teman sekaa truna. Lebih tepatnya ingin mengajak seka truna mengexplore lagi filosofi Hindu-Bali yang berkaitan dengan tema,” jelas Putra.

Ia menyebutkan bahwa para ST mengadopsi cerita masa lalu sastra Bali seperti Mahabharata dan Ramayana hingga isu-isu terkini dilihat dari aspek alam khususnya bencana alam. Tiap sekaa taruna memiliki ogoh-ogoh dengan nama dan cerita yang berbeda-beda.

“Mirip secara judul pasti ada, cuma dari pembahasan, sinopsis, dan bentuk anatomi ogoh-ogoh itu berbeda-beda. Sepengalaman saya belum pernah nemu yang serupa,” tambah Putra.

Seperti salah satu sekaa truna dari Banjar Semaga, Desa Adat Penatih. ST Seterima mengambil judul “Polo Mbuh” dengan ‘Polo’ berarti otak (pemikiran) dan ‘Mbuh’ yaitu kurang (minim), diterjemahkan sebagai kerusakan pola pemikiran berbentuk keserakahan yang menyebabkan bencana.

“Bentuknya ada sosok manusia yang egois membabat pohon besar (alam semesta), dan atma atau roh dari manusia yang bawa satu otak (yang rusak) terus dicabut burung gagak agung, atau dapat diartikan sebagai kematian,” jelas Ketua ST Seterima I Gede Putra Pangjaya ketika ditemui tim, Jumat.

Pangjaya menilai persiapan banjarnya saat ini lebih matang dibandingkan tahun lalu. Ia menyebutkan bahwa inovasi penggunaan mesin untuk ogoh-ogoh mulai diterapkannya.

“Itu atas dasar ambisi sih, biar nanti masuk ke titik nol Kota Denpasar. Kami pakai mesin air (mengeluarkan air), terus mesin penggerak kepala dan sayap juga,” kata Pangjaya.

Selain itu, pemilihan bahan lainnya merupakan bahan organik seperti bambu, rotan, hingga kertas bekas. Hal itu ternyata sudah tertera pada aturan resmi kriteria ogoh-ogoh Kasanga Festival untuk tetap bergerak secara ramah lingkungan. Begitu pula Kasanga Festival 2026 akan bekerjasama dengan komunitas peduli lingkungan terutama untuk upaya preventif atasi sampah.

“Partisipasi anak muda ya meningkat. Soalnya ada media sosial, yang aktif kan mungkin melihat dan ingin ikut serta,” tutur Pangjaya.

Saat ini, pendanaan ogoh-ogoh masih dilaksanakan secara mandiri oleh banjar. Adapun bentuk penggalangan dana mulai dari donasi, sponsorship, hingga penjualan merchandise.