Denpasar –
Sebanyak 20 kapal di Pelabuhan Padangbai, Kabupaten Karangasem, Bali, siap beroperasi melayani penyeberangan menuju Pelabuhan Lembar, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada momen mudik Lebaran 2026. Seluruh kapal tersebut dipastikan dalam kondisi baik dan laik laut.
Kepala Satuan Pelayanan (Satpel) Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Pelabuhan Padangbai I Ketut Sugiartono mengatakan bahwa sebenarnya pihaknya menyiapkan sebanyak 26 kapal untuk mengangkut penumpang saat mudik Lebaran tahun ini. Namun enam kapal saat ini sedang docking karena perbaikan.
“Jadi yang siap untuk beroperasi dari Pelabuhan Padangbai menuju Lembar hanya 20 kapal saja saat ini,” kata Sugiartono, Selasa (10/3/2026).
Ia menjelaskan, berbagai persiapan menghadapi arus mudik Lebaran telah dilakukan sejak jauh hari. BPTD bersama sejumlah instansi terkait seperti KSOP, ASDP, TNI, dan Polri telah beberapa kali menggelar rapat koordinasi. Rapat tersebut membahas mekanisme penyeberangan, pemeriksaan kendaraan, dan pemudik dan yang lainnya.
Meski demikian, hingga saat ini belum terlihat adanya peningkatan jumlah penumpang yang menyeberang melalui Pelabuhan Padangbai. Jika berkaca pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya, lonjakan penumpang diperkirakan mulai terjadi sekitar H-7 Lebaran.
“Sampai saat ini penumpang masih landai, belum ada tanda-tanda peningkatan. Tapi jika seandainya sudah mulai ada peningkatan kami sudah siapkan beberapa skema di Pelabuhan,” ujar Sugiartono.
Ia berharap arus mudik hingga balik di Pelabuhan Padangbai tahun ini dapat berjalan dengan aman dan lancar. Serta tidak ada hal-hal yang menonjol yang dapat mengganggu para pemudik melakukan penyeberangan.
Sebelumnya, puncak arus mudik di Pelabuhan Padangbai diprediksi terjadi pada H-5 dan H-4 Lebaran, tepatnya 16-17 Maret 2026.
“Ini berdasarkan pantauan arus mudik dari tahun sebelumnya,” kata Kepala Satuan Pelayanan (Satpel) Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Pelabuhan Padangbai I Ketut Sugiartono, Selasa (10/3/2026).
Sugiartono mengungkapkan pada H-3 Lebaran merupakan umat Hindu di Bali menggelar Tawur Agung Kesanga sebagai rangkaian Hari Raya Nyepi. Setelah itu, akan digelar pawai ogoh-ogoh pada malam pengerupukan.
Menurut Sugiartono, pemudik kemungkinan menghindari melakukan perjalanan saat hari pengerupukan atau sehari sebelum Nyepi. Sebab, arus lalu lintas akan tersendat dengan adanya arak-arakan ogoh-ogoh.






