Kandang ayam bertingkat tiga di Banjar Pikah, Desa Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Badung, ludes terbakar pada Selasa (13/1/2026) dini hari. Kebakaran yang diduga dipicu korsleting listrik itu menewaskan sekitar 18.000 ekor bibit ayam pedaging. Total kerugian ditaksir mencapai Rp 1,4 miliar.
“Kebetulan setiap 3 jam harus cek kandang. Nah pas dini hari tadi, tenaga (pegawai) masuk ke kandang, itu sudah dilihat api di plafon sudah mulai agak besar. Ternyata nggak cukup pakai air ember sama semprot, baru setelah itu kami telepon Damkar sama matikan listrik,” kata pemilik kandang, I Ketut Miasa, saat ditemui di lokasi kejadian.
Peristiwa bermula ketika seorang karyawan, I Wayan Tri Agus Anggarta, terbangun setelah mendengar suara letupan menyerupai pecahan bambu dari arah kandang. Karena panggilan teleponnya tidak diangkat, ia langsung mendatangi rumah Miasa untuk memberi tahu bahwa api sudah membesar di bangunan kandang sepanjang 30 meter tersebut.
“Terus setelah kita tahu ada yang terbakar, kita siap-siap ambil air ke bawah. Terus pas balik ke atas, api sudah besar,” ujar pria yang telah merintis usaha kemitraan dengan PT Ciomas Adisatwa sejak 2008 itu.
Dua unit armada Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Badung tiba di lokasi sekitar pukul 03.30 Wita. Petugas berjibaku selama lebih dari satu jam hingga api berhasil dipadamkan secara total.
“Jam kalau tidak salah jam 3.15 apa setengah 4 kurang itu datangnya. Dari jam kedatangan itu sampai jam 5 lebih, jam 5-an lah itu (api padam),” ucap Miasa menjelaskan durasi penanganan kebakaran.
Miasa merinci, kerugian materiil meliputi fisik bangunan kandang yang ditaksir senilai Rp 1 miliar, ditambah biaya bibit ayam serta operasional lainnya. Meski mengalami kerugian besar, ia mengaku masih akan berdiskusi dengan keluarga untuk menentukan kelanjutan usaha ke depan.
“Mungkin kalau di kandang saja 1 (miliar), terus kalau dihitung mungkin perkiraan saya sama di bibitnya, paling 1,3 miliar sampai 1,4 miliar. Ini masih berpikir dulu, rembuk sama keluarga dulu, gimana nanti enaknya ke depannya,” jelas Miasa.
Camat Abiansemal, Ida Bagus Putu Mas Arimbawa, meminta para pengusaha kandang ayam dan usaha serupa agar lebih rutin memeriksa jaringan listrik guna mencegah kejadian serupa terulang. Ia bersyukur lokasi kandang yang jauh dari permukiman membuat api tidak merembet ke rumah warga, meski sempat menyambar lahan di sekitarnya.
“Karena ini pemicunya adalah elektrikal, jaringan listriknya, mungkin nanti pemeriksaan jaringan listrik ini perlu lebih rutin. Yang biasanya 6 bulan, mungkin 3 bulan sekali,” tegas Arimbawa saat meninjau lokasi kebakaran.






