Badung –
Sebanyak 11 negara menyerukan pentingnya aksi nyata dan kolaborasi lintas negara untuk menghadapi krisis laut dan dampak perubahan iklim yang semakin mengancam wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Seruan tersebut disampaikan dalam Bali Ocean Days 2026 Conference & Showcase di Jimbaran, Bali, Jumat (30/1/2026).
Mengangkat tema Navigating Solutions for a Regenerative Ocean Future, acara ini menyoroti dampak perubahan iklim terhadap perikanan, keamanan pangan, pariwisata, serta keberlangsungan komunitas pesisir, serta menekankan bahwa adaptasi dan perlindungan laut harus berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi.
Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Didit Herdiawan Ashaf, dalam pidatonya menyampaikan bahwa lautan merupakan jantung dari aksi global untuk melindungi alam dan memerangi perubahan iklim. Namun saat ini, lautan dunia menghadapi beberapa ancaman serius
“Saat ini lautan kita menghadapi ancaman serius seperti laut yang menghangat, peningkatan pengasaman, runtuhnya perikanan, dan polusi laut,” ujar Didit, Jumat (30/1/2026).
Didit menjelaskan, Indonesia sendiri telah menerapkan lima program prioritas ekonomi biru, di antaranya memperluas kawasan konservasi laut hingga 30 persen perairan nasional pada 2045, menerapkan perikanan yang bertanggung jawab, mengembangkan budidaya perikanan berkelanjutan, memperkuat pengawasan ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil, serta melibatkan nelayan dalam pengurangan polusi plastik laut.
Indonesia terus memberi tindakan nyata seperti pengembangan 1.000 Kampung Nelayan Merah Putih, modernisasi 1.500 nelayan, revitalisasi tambak pesisir di Pantai Utara Jawa, serta pengembangan zona budidaya perikanan terintegrasi.
Indonesia juga mempunyai modal ekologis yang kuat dengan sekitar 3,44 juta hektare hutan mangrove, 1,8 juta hektare padang lamun, serta cadangan karbon biru yang diperkirakan mencapai 17 persen dari total karbon biru global. Namun, dengan kekayaan alam tersebut tetap membutuhkan kerja sama dan dukungan untuk memulihkan laut secara global.
“Indonesia tidak dapat melakukannya sendiri, kami masih membutuhkan dukungan dan kemitraan yang kuat untuk berbagi pengetahuan, teknologi, dan investasi. Bersama-sama kita bisa. Kita dapat memulihkan lautan dan menciptakan masa depan yang lebih baik untuk semua,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Didit juga mengumumkan bahwa Indonesia akan menjadi tuan rumah Ocean Impact Summit pada tanggal 8 hingga 9 Juni 2026, yang akan menghadirkan para pemimpin global, pelaku bisnis, dan pemangku kepentingan di bidang kelautan.






