100 Perantau Pulau Raas di Bali Mudik dari Celukan Bawang Naik Kapal Negara

Posted on

Buleleng

Sabtu (14/3/2026) pagi di Pelabuhan Celukan Bawang berbeda dari biasanya. Tas berisi oleh-oleh, anak-anak yang masih mengantuk, hingga wajah-wajah penuh harap terlihat di antara antrean penumpang. Mereka bukan wisatawan, melainkan para perantau yang bersiap pulang kampung lewat program mudik gratis menggunakan kapal negara.

Program ini digelar pemerintah untuk membantu warga asal Pulau Raas, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, yang bekerja dan menetap di Bali agar bisa pulang saat Lebaran tanpa harus memikirkan biaya perjalanan yang cukup besar.

Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Celukan Bawang, Taufikur Rahman, menjelaskan tahun ini ada beberapa kapal negara yang dikerahkan khusus untuk membantu arus mudik tersebut.

“Sabtu ini ada tiga kapal negara yang kami perbantukan untuk angkutan mudik gratis tujuan Pulau Raas,” kata Taufikur Rahman.

Tiga kapal tersebut yakni KN Cundamani milik Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) Tanjung Perak, kemudian KN Nusa Penida dari Distrik Navigasi Benoa, serta KN Masalembo milik Distrik Navigasi Tanjung Perak.

Pada pelayaran pertama hari ini, sekitar 100 penumpang telah diberangkatkan. Sementara pelayaran kedua diperkirakan mengangkut hingga 180 penumpang. Kemudian ketiga sekitar 180 orang. Besok, satu kapal tambahan kembali diberangkatkan dengan tujuan yang sama.

“Total penumpang yang bisa kami angkut dari beberapa pelayaran ini sekitar 700 sampai 900 orang. Kami masih menunggu sampai keberangkatan besok,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kapal-kapal tersebut sebenarnya bukan kapal penumpang. Kapal yang digunakan merupakan kapal pencarian dan penyelamatan yang biasanya digunakan untuk tugas operasional.

“Memang peruntukan kapal negara ini sebagai kapal kerja atau kapal SAR. Tapi pada momen angkutan Lebaran, kapal ini kami perbantukan untuk membantu saudara-saudara kita yang ingin pulang ke Pulau Raas,” jelasnya.

Sebelum dioperasikan mengangkut penumpang, seluruh kapal juga telah melalui proses ramp check oleh koordinator masing-masing untuk memastikan kelayakan dan keselamatan pelayaran.

Penumpang memadati dermaga Pelabuhan Celukan Bawang untuk mengikuti program mudik gratis, Sabtu (14/3/2026). (Made Wijaya Kusuma)Penumpang memadati dermaga Pelabuhan Celukan Bawang untuk mengikuti program mudik gratis, Sabtu (14/3/2026). (Made Wijaya Kusuma)

“Dari hasil ramp check, kapal-kapal ini dinyatakan bisa dipergunakan untuk membantu mengangkut penumpang,” tambahnya.

Di antara para pemudik, Setyalifa tampak sibuk menjaga barang bawaan sambil sesekali menenangkan anggota keluarganya. Perempuan asal Pulau Raas itu mudik bersama empat orang keluarganya. Ia mengaku sudah dua kali mengikuti program mudik gratis di Pelabuhan Celukan Bawang.

“Informasinya dari saudara. Setiap tahun pasti ditunggu karena bisa pulang kumpul keluarga,” katanya.

Setyalifa yang kini tinggal di Denpasar berangkat tengah malam bersama rombongan bus.

“Berangkat jam 12 malam, pakai bus rombongan. Sampai sini sekitar jam 4 pagi,” ujarnya.

Ia bahkan sudah menyiapkan oleh-oleh khas Bali untuk keluarga di kampung. Termasuk untuk neneknya yang sudah lama tidak ditemui.

“Ada pie susu sama oleh-oleh lain. Di sana ada nenek,” katanya.

Pemudik lain, Agus Wedi, juga mengaku baru pertama kali mencoba jalur mudik lewat Pelabuhan Celukan Bawang. Biasanya ia pulang lewat jalur lain.

“Biasanya lewat Gilimanuk terus ke Jangkar. Tapi sekarang coba lewat sini,” ujarnya.

Ia mengetahui informasi mudik gratis ini dari pondok pesantren tempatnya beraktivitas. Menurut Agus, biaya perjalanan ke kampung halaman cukup mahal jika harus menggunakan jalur biasa. Belum lagi antrean yang panjang menjelang Lebaran.

“Lumayan biayanya, antreannya juga banyak. Makanya sekarang banyak orang Raas lewat sini,” katanya.

Agus juga membawa sejumlah oleh-oleh dari Bali untuk keluarganya di kampung.

“Ada banana sama pie susu. Kemarin borong di Denpasar,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi Agus, pulang kampung bukan sekadar perjalanan, tetapi juga tentang melepas rindu.

“Yang paling dikangenin ya ibu di sana. Terakhir ketemu November kemarin waktu ada keluarga meninggal,” katanya pelan.

Program mudik gratis ini menjadi harapan bagi banyak warga Raas yang merantau di Bali. Mereka berharap bantuan kapal negara tetap ada di tahun-tahun mendatang.

Taufikur Rahman pun berharap ke depan layanan mudik bisa semakin baik, bahkan idealnya menggunakan kapal penumpang khusus. “Harapan kami tahun depan tetap ada bantuan seperti ini. Tapi lebih baik lagi kalau bisa menggunakan kapal penumpang,” katanya.